Selamat Datang di Oase Qalbu

  Beritahu teman  
 

Menu Utama
. HOME
. Berita
. OASE
. Hikmah
. Lembar Jum'at
. Khutbah Jum'at
. Kisah:
   - Sahabat
   - Kaum Salaf
   - Tokoh Islam
   - Kehidupan
. Ramadhan
. Muslimah
. Keajaiban
. Sejarah
. Ghazwul Fikr
. Pergerakan
. Akhir Zaman
. Download

. Semua Topik
. Semua Arsip


Telah dikunjungi:

2.373.736  kali
sejak Juli 2007

18 pengunjung online


Newsletter Oase
Total ada 1.417 anggota

Setiap update di website ini secara otomatis akan terkirim ke Newsletter Oase (berupa artikel full). Keanggotaan Newsletter terbuka bagi siapa saja, untuk berlangganan silakan isi form berikut:

Nama Anda :
Email Anda:


Semua posting newsletter juga akan diupdate di Page Oase Qalbu


Update situs ini juga tersedia di RSS Feed berikut:

Link Islami
. Eramuslim
. Percikan Iman
. Syariah Online
. Harun Yahya


Guestbook

Silakan mengisi buku tamu sebagai tanda atas kunjungan Anda di website ini.

Baca Buku Tamu
Isi Buku Tamu


Webmaster
. Disclaimer
. Email ke Webmaster
. FAQ


Menegakkan Keadilan
Dipublikasi pada Sabtu, 18 Oktober 2003 oleh abufaiz97
Artikel ini telah dibaca 1368 kali.
Topik: Oase

Oase Suatu waktu Pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab mengumumkan pembagian kain baju dari negara kepada seluruh kaum Muslimin. Pembagian ditetapkan harus adil dan sama rata.

----------

Sumber : Milist Sabili

Oleh : Atik Fikri Ilyas


Suatu waktu Pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab mengumumkan pembagian kain baju dari negara kepada seluruh kaum Muslimin. Pembagian ditetapkan harus adil dan sama rata. Tidak ada bedanya jatah untuk kepala negara, pejabat negara, atau rakyat biasa. Pembagian baju dinyatakan selesai.

Seluruh warga mendapatkan bagiannya sama rata, tak terkecuali Umar bin Khathab. Namun, sang kepala negara tampak memakai baju yang besar karena badannya besar. Dan, orang-orang mengetahuinya karena pembagian dilaksanakan secara terang-terangan. Ketika Umar berkhutbah memberi semangat kepada kaum Muslimin untuk berdakwah memperluas wilayah syiar Islam dan menjelaskan keutamaannya dengan mengatakan 'Dengarlah dan taatilah perkataanku ini ...' tak ada suara gemuruh mendukung khutbahnya.

Malah secara bergantian terdengar suara cukup nyaring, 'Tidak ada perhatian dan tidak pula ketaatan. Tidak ada tentara yang maju dengan senjata-senjatanya di medan pertempuran!' Umar terheran-heran mendapati suasana yang berbeda dari biasanya itu. Lalu ia bertanya, 'Mengapa sikap kalian berubah?'

Kemudian seseorang berkata dengan nada tinggi, 'Engkau mengambil kain sebagaimana yang kami ambil, tapi bagaimana kain itu pas bagimu sedangkan engkau laki-laki berbadan tinggi besar? Pasti ada sesuatu yang engkau khususkan untuk dirimu sendiri!' Mendengar pernyataan itu, Umar lalu memanggil putranya, Abdullah bin Umar.

Putranya itu diminta menjadi saksi dan mengumumkan kepada khalayak apa yang sebenarnya terjadi. Abdullah bin Umar pun bersaksi bahwa ia memberikan bagiannya kepada ayahnya sehingga ayahnya dapat memakai pakaian yang menutup auratnya, sesuai dengan postur tubuhnya yang tinggi bersar. Orang yang berbicara lantang tadi pun duduk dan berkata, 'Sekarang kami mendengar dan kami taat.' Sikap ini kemudian diikuti oleh segenap hadirin.

Subhanallah, betapa indah hubungan antara kepala negara dan rakyatnya. Kepala negara merasa tidak harus dilebihkan dari rakyatnya dan bebas ditegur, direformasi oleh warganya. Dalam artian, kepala negara ingin dimiliki dan berbuat untuk rakyat. Begitu pula, sistem pemerintahannya memandang semua warga sama dalam hak dan kewajiban.

Itulah seharusnya sikap seorang kepala negara. Ia tidak takut memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingannya sendiri. Begitu pula keluarganya yang tidak menggunakan posisi itu untuk memperkaya diri.

Mungkin kehidupan bernegara seperti di atas sulit didapatkan saat ini, apalagi di negara kita, di mana korupsi, kolusi, dan nepotisme sudah membudaya di setiap lini pemerintahan. Namun, semua itu bukannya mustahil diubah atau direformasi. Segalanya tergantung pada keseriusan dan kegigihan kita bersama. Masalahnya kita mau atau tidak.


 Simpan ke PDF | Kirim ke email | Share


Komentar untuk artikel: Menegakkan Keadilan

Isi Komentar



Email : Email tidak akan ditampilkan di web
Komentar :
Tulislah komentar dengan mengikuti etika internet dan norma-norma kesopanan. Komentar yang memperolok, menghasut, dan berbau SARA akan dihapus dari server. Isi komentar menjadi tanggung jawab penulis komentar.

Security Code:




 
Nilai Artikel
Rata-rata: 0
Pemilih: 0

Beri nilai Artikel ini:

Luar Biasa
Sangat Bagus
Bagus
Biasa
Jelek



Ada 42 artikel pada Topik Oase, link 5 artikel sebelum dan sesudahnya:

12. Gaung Kemudahan
13. Keadilan Islam
14. Malu dilihat anjing
15. Kezuhudan Sang Khalifah
16. Kasih sayang Allah
17. Menegakkan Keadilan
18. Taklukkan harimau dengan kesabaran
19. Si Tuli
20. Nasihat Ibrahim bin Adham
21. Mangkuk cantik, madu, dan sehelai rambut
22. Ketangkasan lidah ulama



Sebagian besar materi dalam website ini diambil dari sumber lain. Mengkopi materi dipersilakan dengan tetap mencantumkan sumber aslinya dan memperhatikan poin-poin pada halaman Disclaimer.

First Published on August 2000 by:
Engine Revised: August 20, 2007

Powered by:
PHPNuke | PHP | MySQL | Apache
Page generation: 1.643 seconds