Oase Qalbuhttp://www.oaseqalbu.net/rss.phpMenggapai mutiara di dasar hati, menuju jiwa yang suci.Thu, 25 Mar 2010 18:27:18 GMTen-usUmur Umat Islam (3 dari 9)http://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=456http://www.oaseqalbu.net/?p=456Tue, 06 Jul 2010 19:30:56 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

Pendahuluan

Umur umat Islam adalah semenjak diutusnya Nabi Muhammad SAW sampai terjadinya hari kiamat. Atau tepatnya sampai datangnya angin lembut dari arah Yaman Selatan, hingga dicabutnya nyawa setiap orang mukmin, dan hal itu terjadi setelah meninggalnya Isa bin Maryam. Kemudian tidak tersisa lagi di bumi ini seorang mukmin satu pun, dan tinggallah makhluk-makhluk yang paling durhaka, ingkar, dan jahat, atas mereka terjadilah hari kiamat.

Sedangkan umur umat Yahudi adalah semenjak Allah mengutus Nabi Musa AS sampai diutus pula Nabi Isa AS. Ada pun umur umat Nasrani adalah semenjak diutusnya Nabi Isa sampai diutus Nabi Muhammad SAW.

Pembahasan umur umat Islam tidak bermaksud mempercepat roda vitalitas kehidupan dunia atau kehancuran alam. Rasulullah bersabda, "Jika kiamat telah mulai terjadi, sedang di tangan salah seorang kalian ada sebiji (bibit tanaman), maka jika ia sempat menanamnya menjelang kiamat itu, hendaklah ia menanamnya." (HR. Bukhary dan Ahmad). Sehingga pembahasan tentang umur umat Islam tidak berarti bahwa kita akan berlaku lemah dan meninggalkan kerja, meninggalkan menuntut ilmu atau dakwah. Akan tetapi sebaliknya kita harus bersiap-siap menghadapi huru-hara dan peperangan akhir zaman tersebut dengan iman, ilmu, amal, dan takwa.

Menentukan umur umat Islam juga bukan dalam arti meramalkan kapan terjadinya kiamat karena sebenarnya hari kehancuran tersebut adalah rahasia Allah SWT, akan tetapi yang dimaksud adalah perkiraan-perkiraan global yang bersandarkan kepada keterangan Rasulullah dalam hadits-hadits yang shahih saja dan juga keterangan-keterangan ulama-ulama besar yang menerangkan hadits-hadits tersebut.

Hadits-Hadits Rasulullah tentang Umur Suatu Umat

Diriwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abdullah bin Umar RA bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya masa menetapmu dibandingkan dengan umat-umat sebelum kamu adalah seperti waktu antara shalat Asar sampai terbenamnya matahari. Ahli Taurat (Yahudi) telah diberikan kepada mereka kitab Taurat, kemudian mereka mengamalkan kitab tersebut, sehingga apabila telah sampai waktu tengah hari, maka mereka pun lemah untuk mengamalkannya. Lalu mereka diberi pahala oleh Allah SWT masing-masing satu qirath. Kemudian diberikan pula kepada ahli Injil (Nasrani), lalu mereka mengamalkan kitab Injil sampai waktu shalat Asar. Dan setelah itu mereka lemah untuk mengamalkannya. Maka mereka pun diberi pahala oleh Allah SWT masing-masing satu qirath. Kemudian diberikan pula kepada kita kitab Al-Quran, dan kita mengamalkannya sampai matahari terbenam. Maka Allah SWT memberi ganjaran kepada kita masing-masing dua qirath. Berkatalah ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), ‘Wahai Rabb kami, mengapa engkau beri ganjaran kepada mereka (Muslim) dua qirath dan engkau memberi ganjaran kepada kami satu qirath, sedangkan amalan kami lebih banyak dari mereka". Berkata Rasulullah, "Allah SWT menjawab (sambil bertanya), ‘Apakah aku berlaku zalim dalam memberi ganjaran dari amal kalian? Mereka menjawab, ‘Tidak. Allah SWT berkata, ‘Itu adala karunia yang Aku berikan kepada siapa saja yang Aku kehendaki." (HR. Bukhary)

Diriwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abu Musa RA, Rasulullah bersabda, "Pemisalan antara kaum Muslimin dan Kaum Yahudi serta kaum Nasrani adalah seperti laki-laki kaya yang mengupah suatu kaum untuk melakukan sebuah pekerjaan untuknya sampai malam. Akan tetapi kaum tersebut hanya bekerja sampai tengah hari. Dan mereka berkata kepada laki-laki tersebut, ‘Kami tidak memerlukan gaji yang kamu berikan. Kemudian laki-laki itu mengupah suatu kaum yang lain seraya berkata, ‘Sempurnakanlah pekerjaan ini sampai selesai hari ini juga, dan kamu akan mendapatkan gaji seperti yang aku syaratkan. Kemudian kaum tersebut hanya bekerja sampai waktu shalat Asar dan berkata, ‘Ambillah olehmu apa-apa yang kami kerjakan. Kemudian laki-laki tersebut mengupah suatu kaum yang lain,dan mereka pun bekerja sampai penuh hari tersebut, sehingga terbenam matahari. Dan mereka mendapatkan gaji atas dua kaum sebelum mereka." (HR. Bukhary)

Dari kedua hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa waktu yang dimiliki oleh kaum Yahudi adalah sama dengan waktu yang dimiliki kaum Nasrani dan diteruskan (ditambah) waktu yang dimiliki oleh Muslim. Karena kaum Yahudi bekerja setengah hari sedangkan kaum Nasrani bersama kaum Muslimin bekerja setengah hari pula.

Ketika ahli kitab protes dengan mengatakan ini dan itu maka Allah menerangkan kepada mereka bahwa Dia tidaklah menzalimi mereka, karena ganjaran yang diberikan kepada mereka adalah banyak dan tidak dikurangi sedikit pun. Namun yang dipermasalahkan oleh mereka (ahli kitab) adalah karena Allah memberikan keutamaan dan karunia kepada umat Muhammad SAW dengan menambah pemberian.

Kemudian jika dibandingkan antara kedua ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) dengan kaum Muslimin:

1. Apakah sama antara orang-orang Yahudi yang mengatakan tentang binatang sapi, ‘Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, dengan orang-orang Muslim yang mengatakan ‘Tiada Ilah selain Allah? Tentu tidak sama!

2. Apakah sama antara orang-orang Yahudi yang mengatakan ‘Uzair anak Allah dan orang-orang Nasrani yang mengatakan ‘Isa al-Masih anak Allah, dengan kaum Muslimin yang mengatakan ‘Katakanlah Allah itu Esa, Allah tempat seluruh makhluk bergantung, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada satu pun yang sebanding dengan Dia? Tentu tidak sama!

3. Apakah sama antara orang-orang Yahudi yang mengatakan ‘Sesungguhnya Allah adalah miskin dan kami adalah orang-orang kaya, dengan orang-orang Nasrani yang mengatakan ‘Apakah Tuhanmu dapat menurunkan hidangan kepada kami dari langit, dengan orang-orang Muslim yang engatakan ‘Engkaulah yang kaya wahai Allah dan kamilah yang miskin serta perlu kepada-Mu? Tentu tidak sama!

4. Apakah sama antara orang-orang Yahudi yang mengatakan ‘Kami dengar dan kami ingkari, dengan orang-orang Muslim yang mengatakan ‘Kami dengar dan kami taat? Tentu tidak sama!

5. Apakah sama antara orang-orang Yahudi yang mengatakan ‘Pergilah engkau bersama Rabbmu dan berperanglah, sesungguhnya kami akan duduk di sini saja, dengan orang-orang Muslim yang berkata ‘Pergilah engkau bersama Rabbmu dan berperanglah, sesungguhnya kami akan ikut berperang bersamamu? Tentu tidak sama!

Para sejarawan bersepakat bahwa masa kaum Yahudi dan kaum Nasrani adalah kira-kira 2000 tahun. Ada pun masa (umur) umat Nasrani adalah 600 tahun sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhary dari Salman al-Faritsi RA bahwa Rasulullah bersabda, "Masa antara Isa dan Muhammad adalah selama 600 tahun." (HR. Bukhary)

Dengan demikian umur umat Yahudi adalah sekitar 1400 tahun lebih sedikit dimana ahli sejarah sepakat bahwa kelebihannya berkisar 100 tahun, sehingga tepatnya umur umat Yahudi adalah 1500 tahun. Dan bahwa umur umat Islam adalah sama dengan umur umat Yahudi dikurangi umur umat Nasrani, sehingga umur umat Islam adalah sekitar 900 tahun ditambah 500 tahun sama dengan 1400 tahun. Tambahan yang 500 ini didasarkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim dari Saad bin Abi Waqqash, dimana telah bersabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya aku berharap, bahwa umatku tidak akan lemah di hadapan Rabb mereka dengan mengundurkan umur mereka selama setengah hari." Kemudian Saad ditanya, "Berapakah lamanya setengah hari itu?" Ia menjawab, "Lima ratus tahun." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim)

Imam as-Sayuthi dalam kitab beliau yang berjudul al-Kasysyaf, ketika menerangkan tentang keluarnya Imam Mahdi, berkata, "Hadits-hadits hanya menunjukkan bahwa umur umat ini (Islam) lebih dari 1000 tahun dan tambahannya sama sekali tidak lebih dari 500 tahun."

Sesuai dengan penghitungan-penghitungan yang ikut kepada keterangan ulama-ulama besar kita yang berdasarkan kepada Sunnah-sunnah yang shahih. Maka saat ini kita berada dan hidup pada periode terakhir sebelum masa penghabisan dan masa-masa persiapan untuk menghadapi huru-hara dan peperangan-peperangan besar, atau penghabisan yang mendahului munculnya tanda-tanda besar kiamat.

Pembahasan/penghitungan umur umat Islam yang telah dijelaskan di atas senada dan diperkuat oleh perkataan para ahli kitab, bahwa masa berakhirnya dunia sudah semakin dekat. Sehingga bagian keterangan para ahli kitab ini sengaja tidak diringkas oleh peringkas.

Ringkasan setelah bagian ini adalah tentang kedatangan Imam Mahdi sebagai pembatas antara tanda-tanda kecil dengan tanda-tanda besar kiamat.

[Diringkas dari buku "Umur Umat Islam, Kedatangan Imam Mahdi, dan Munculnya Dajjal" karya Amin Muhammad Jamaluddin. Halaman 35-45. Terjemahan diterbitkan oleh Penerbit Cendekia, cetakan keempat belas, Mei 2004.]
]]>
Perang Armageddon Sebagai Bagian Akhir dari Tanda-Tanda Kecil Kiamat (2 dari 9)http://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=459http://www.oaseqalbu.net/?p=459Tue, 01 Jun 2010 19:46:42 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

Pengenalan Perang Armageddon

Perang Armageddon adalah:
1. Peristiwa besar dan perang kehancuran
2. Pertemuan strategi dari perang raksasa yang sudah dekat waktunya
3. Perang persekutuan internasional (Perang Dunia) yang akan segera datang, yaitu yang sedang ditunggu oleh seluruh penduduk bumi pada hari ini
4. Ia adalah perang politik dan agama
5. Ia adalah perang raksasa oleh banyak pihak
6. Ia adalah perang yang paling besar dan dahsyat dalam sejarah
7. Ia adalah awal dari kemusnahan
8. Ia adalah perang yang dimulai dengan menyeluruhnya perdamaian palsu, sehingga orang-orang berkata, perdamaian sudah datang, keamanan sudah datang, padahal kenyataannya adalah sebaliknya

Armageddon adalah kata-kata yang berasal dari bahasa Ibrani yang terdiri dari dua kata yaitu:
1. "Ar" yang berarti gunung atau bukit
2. "Mageddo" adalah nama dari sebuah lembah di Palestina, yang mana lembah ini merupakan medan pertempuran yang akan datang tersebut, yang akan membentang dari "Mageddo" di utara sampai ke "Edom" di selatan yang berjarak sekitar dua ratus mil dan sampai ke laut putih di barat dan ke bukit Mohab di Timur yang berjarak 100 mil.

Para ahli militer khususnya ahli perang tempo dulu memandang bahwa kawasan ini merupakan sebuah tempat yang strategis, dimana setiap panglima yang berhasil menguasai kawasan ini, maka ia akan dengan mudah mematahkan setiap perlawanan musuh.

Kata Armageddon adalah sebuah istilah yang sudah dikenal bagi para ahli kitab, yang dapat ditemui dalam kitab-kitab suci mereka. Yang dimaksud ahli kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani saja. Bagaimanakah hukumnya menggunakan istilah atau keterangan-keterangan dari para ahli kitab? Rasulullah telah bersabda, "Sampaikanlah ajaran-ajaranku walaupun itu hanya satu ayat, dan berbicaralah dari ajaran Bani Israil (Yahudi) dimana tidak ada halangan bagi kalian..." (HR. Bukhary). Dan di lain hadits Rasulullah bersabda, "Apabila ada ahli kitab yang berbicara (tentang agama), maka janganlah langsung kamu benarkan dan jangan pula langsung kamu dustakan." (HR. Bukhary)

Perkataan para ahli kitab tentang Perang Armageddon

1. Dalam kitab Wahyu (revealition) pasal 16 ayat 16 dikatakan, "Dan ruh-ruh setan mengumpulkan sekalian tentara dunia di sebuah tempat bernama Armageddon" (Injil, hal. 388, penerbit Daar Ats Tsaqafah, Mesir)

2. Ronald Reagen pernah berkata, "Sesungguhnya generasi ini tepatnya adalah generasi yang akan melihat Perang Armageddon." (Kitab Ramalan dan Politik)

3. Segala sesuatu pasti akan berakhir dalam beberapa tahun, dimana akan terjadi Perang Dunia yang paling besar, yaitu Perang Armageddon atau perang di dataran Mageddo. ("Kitab Drama Berakhirnya Zaman" oleh Oral Robertus dan "Kitab Akhir Bola Dunia Yang Paling Besar" oleh Hall Lindus, mereka mempercayai tahun 2000 adalah berakhirnya bola dunia secara final)

4. Jimmy Sujjest berkata, "Aku berkeinginan agar aku dapat mengatakan bahwa kita akan mencapai perdamaian. Akan tetapi aku percaya bahwa perang Armageddon akan datang. Sesungguhnya Armageddon akan datang dan berkecamuk di lembah Mageddo. Ia akan datang. Mereka bisa saja menandatangani perjanjian-perjanjian perdamaian yang mereka inginkan. Namun, sesungguhnya hal itu tak akan merealisasikan apa pun. Sebab, bagaimana pun juga hari-hari hitam itu akan datang." (Kitab Janji yang Benar dan Janji yang Dusta)

5. Gerry Folwel, seorang pemimpin fundamentalis Kristen berkata, "Sesungguhnya Armageddon adalah sebuah hakikat (realita) dan sangat nyata, akan tetapi kita bersyukur karena ia akan terjadi pada akhir hari sejagat." (Kitab Ramalan dan Politik)

6. Shofeld berkata, "Sesungguhnya orang-orang Kristen yang ikhlas hendaknya bergembira dengan peristiwa ini. Karena begitu pertempuran yang terakhir ini (Armageddon) dimulai, maka Isa al-Masih akan segera mengangkat mereka ke awan, dan mereka akan diselamatkan oleh al-Masih serta tidak akan menghadapi kesusahan apa pun yang terjadi di bumi." (Kitab Ramalan dan Politik)

Perkataan-perkataan di atas merupakan suatu keanehan dari ahli kitab yang menunjukkan betapa besar kepercayaan mereka akan peperangan Armageddon dan dekatnya kedatangan perang tersebut.

Kaum Muslim dan Perang Armageddon

Memang aneh, pada saat kita mengetahui perkataan-perkataan ahli kitab, maka telah banyak dan datang secara bertubi-tubi peristiwa yang menguatkan perihal akan terjadinya perang Armageddon. Dan bahwa ia adalah realita yang tak dapat dipungkiri lagi. Sebab, kita menemukan banyak orang dari kaum Muslimin yang tidak mengerti apa itu Armageddon? Dan apa-apa yang dimaksud dengan kata yang berbahaya ini (dalam hal Armageddon sebagai istilah kamus ahli kitab)?

Kita tidaklah memaksudkan kalimat Armageddon sebagai suatu kata atau istilah saja, akan tetapi sebagai suatu pengertian dan isyarat. Karena, ia adalah sebuah kata yang mempunyai arti cukup banyak.

Sebagian pemikir-pemikir Islam telah mulai memperhatikan masalah pertempuran ini dan penekanannya bahwa:

1. Pertempuran yang menentukan sudah dekat kedatangannya dan ia pada saat ini sedang dipersiapkan.
2. Perang tersebut adalah perang strategis, nuklir, dan bersifat internasional.
3. Orang Yahudi akan mengalami kekalahan dalam pertempuran tersebut.

Bahwa perang Armageddon adalah perang persekutuan (internasional), dimana kaum Muslimin dan Kaum Rum (Eropa dan Amerika) tidak diragukan lagi akan menyatu menjadi satu blok. Kemudian mereka akan melawan suatu musuh yang berserikat, yang mana mereka itu belum kita ketahui. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah, "Suatu musuh di belakang mereka..." Walaupun realita modern menunjukkan, bahwa blok musuh kita tersebut adalah blok Timur Komunis atau Syiah, dan kemenangan akan berada di tangan kita.

Adapun tentang orang-orang Yahudi, maka rujukan kita tidak ada hal-hal yang menunjukkan peranan mereka dalam perang dunia ini. Akan tetapi tidak diragukan lagi, bahwa mereka ikut terjun dalam pertempuran ini. Dan bahkan merekalah yang mengobarkan api peperangan ini. Hingga dua pertiga jumlah Yahudi akan musnah dalam pertempuran dimaksud.

Adapun sepertiga jumlah mereka yang lain, maka mereka tersebut akan ditumpas oleh kaum Muslimin pada zaman Imam Mahdi, tepatnya setelah turunnya Isa al-Masih putra Maryam.

(Melihat perkembangan terakhir ini, Juli 2004, bahwa resolusi PBB menganggap tembok pemisah yang dibangun Yahudi tidak sah dan harus dihancurkan. Resolusi yang diajukan Palestina ini didukung oleh Uni Eropa (Rum) dan juga oleh sekitar 140 negara lain, sementara resolusi ini ditentang oleh hanya lima negara termasuk Yahudi dan Amerika. Akankah perang Armageddon melibatkan dua kubu ini? Wallahualam, -peringkas-).

Rasulullah bersabda, "Kalian akan mengadakan perdamaian dengan bangsa Rum dalam keadaan aman. Lalu kalian akan berperang bersama mereka melawan suatu musuh dari belakang mereka. Maka kalian akan selamat dan mendapatkan harta rampasan perang. Kemudian kalian akan sampai ke sebuah padang rumput yang luas dan berbukit-bukit. Maka berdirilah seorang laki-laki dari kaum Rum lalu ia mengangkat tanda salib dan berkata, Salib telah menang. Maka datanglah kepadanya seorang lelaki dari kaum muslimin, lalu ia membunuh laki-laki Rum tersebut. Lalu kaum Rum berkhianat dan terjadilah peperangan, dimana mereka akan bersatu menghadapi kalian di bawah 80 bendera, dan di bawah tiap-tiap bendera terdapat dua belas ribu tentara." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Nash (teks) hadits di atas dengan jelas menerangkan bahwa di sana ada dua peperangan yang akan terjadi, yaitu:

1. Perang Dunia Armageddon, dimana peperangan ini telah diketahui akan terjadi oleh semua pihak
2. Perang yang dalam hadits disebutkan sebagai Peperangan Terbesar (Al-Malhamah Al-Kubra). Perang ini tidak diketahui kecuali oleh sebagian orang. Sementara pihak-pihak yang berperang dalam pertempuran ini adalah pihak kaum Muslimin menghadapi pihak Rum, setelah terjadinya perang Armageddon, dimana pihak Rum telah berkhianat terhadap kita dalam perang tersebut.

Peperangan Armageddon adalah peristiwa pertama sebagai permulaan dari serentetan huru-hara di akhir zaman, pertempuran ini adalah adalah perang penghancuran dan nuklir yang akan memusnahkan sebagian besar senjata-senjata strategis. Setelah itu, alat-alat dan senjata yang dipakai dalam peperangan selanjutnya adalah pedang, panah, dan kuda.

Hal tersebut tidaklah aneh untuk terjadi, karena sudah menjadi Sunnatullah sejak dari kebudayaan-kebudayaan zaman dulu akan adanya kehancuran setelah kejayaan, dan kejatuhan setelah ketinggian. Sedangkan kebudayaan abad ke-20 telah mencapai puncak kreasi dan inovasi dunia, bahkan orang-orang mulai sibuk bicara tentang perang bintang.

Maha Suci Allah, tiada yang akan terjadi setelah puncak ketinggian kecuali kejatuhan dan kehancuran. Armageddon akan berkecamuk di Bumi Palestina dimana di sana akan bertemu kumpulan-kumpulan pasukan raksasa.

---Diringkas dari buku "Umur Umat Islam, Kedatangan Imam Mahdi, dan Munculnya Dajjal" karya Amin Muhammad Jamaluddin. Halaman 24-30. Terjemahan diterbitkan oleh Penerbit Cendekia, cetakan keempat belas, Mei 2004.---
]]>
Tanda-Tanda Kecil Kiamat yang Utama (1 dari 9)http://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=461http://www.oaseqalbu.net/?p=461Mon, 10 May 2010 20:36:58 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

Yang dimaksud dengan tanda-tanda kecil kiamat adalah peristiwa dan hal-hal yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan akan terjadi di akhir zaman, sebagai syarat dan isyarat akan munculnya tanda-tanda besar kiamat.

Tanda-tanda atau isyarat-isyarat kiamat adalah kata-kata yang berasal dari Al-Quran dan Sunnah. Allah SWT berfirman,

"Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat, (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba. Karena sesungguhnya telah datang syarat-syaratnya." (Muhammad: 18)

Dan dari Sunnah adalah jawaban Nabi SAW kepada Jibril AS ketika belau ditanya oleh Jibril tentang hari kiamat: "Bahwasanya yang ditanya tidaklah lebih tahu dari yang menanya." Lalu Jibril bertanya lagi tentang syarat-syarat (tanda-tanda)-nya. Maka Nabi pun bersabda,

"Apabila budak perempuan melahirkan tuannya, dan ketika penggembala kambing yang telanjang kaki serta kekurangan pakaian tinggal di gedung-gedung tinggi..." (HR. Muslim, Ahmad)

Adapun tanda-tanda kecil kiamat yang utama adalah:

1. Budak wanita melahirkan tuannya (HR. Muslim dan Ahmad). Hal ini merupakan kiasan dari banyaknya penaklukan Islam dan juga banyaknya para budak dari hasil penaklukan tersebut. Hingga para budak wanita akan melahirkan anak laki-laki yang akan menjadi tuannya karena anak tersebut adalah anak dari tuan wanita sang budak. Juga merupakan kiasan dari banyaknya kedurhakaan anak terhadap ibunya.

2. Penyerahan urusan-urusan kepada yang bukan ahlinya. Telah bersabda Rasulullah SAW, "Apabila suatu urusan telah diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya." (HR. Bukhary)

3. Sedikitnya ilmu dan munculnya kejahilan (kebodohan) manusia dalam arahan hidup dan persoalan yang menyangkut akhirat.

4. Banyaknya pembunuhan yang terjadi dimana-mana. Telah bersabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya pintu gerbang hari kiamat akan datang suatu masa dimana turunnya pada kejahilan dan diangkatnya ilmu akhirat, dan banyak terjadinya pembunuhan." (Muttafaqun 'Alaih dari Ibn Mas'ud RA)

5. Tersebarnya pengkhianatan dan tuduhan terhadap orang-orang yang jujur. Rasulullah bersabda, "Diantara syarat-syarat hari kiamat adalah timbulnya hal-hal keji, kevulgaran dalam kekejian, pemutusan silaturahim, pengkhianatan terhadap orang jujur, dan kepercayaan pada orang-orang yang berkhianat." (HR. Ahmad)

6. Umat-umat manusia yang lain berebutan terhadap umat Islam, sebagaimana orang-orang yang sedang makan berebutan terhadap sepiring makanan. (Makna HR. Ahmad)

7. Munculnya orang-orang bodoh yang ikut berbicara tentang urusan-urusan umum masyarakat. Rasulullah bersabda, "Di pintu gerbang hari kiamat akan muncul tahun kepalsuan (yang penuh penipuan), dimana orang-orang jujur akan menjadi tertuduh dan orang-orang yang semestinya tertuduh dipercayai. Dan pada masa itu pula muncul Ar-Rawaibidhah." Lalu sahabat bertanya, 'Apakah Ar-Rawaibidhah itu?' Berkata Rasulullah, "Yaitu orang bodoh yang berbicara tentang urusan-urusan masyarakat umum." (HR. Ahmad, Thabrani dari Abu Hurairah RA)

8. Hilangnya kehati-hatian manusia dalam mendapatkan rizki yang halal. Bersabda Rasulullah, "Akan datang kepada manusia suatu zaman, dimana orang-orang tidak peduli lagi terhadap apa-apa yang mereka peroleh, apakah rizki itu halal atau haram." (HR. Bukhary dari Abu Hurairah)

9. Manusia saling bunuh membunuh tanpa tujuan kebenaran yang jelas. Bersabda Rasulullah, "Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, sungguh akan datang kepada manusia suatu zaman, dimana pada zaman itu si pembunuh tidak mengerti mengapa ia membunuh dan si terbunuh tidak mengerti mengapa ia dibunuh." (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

10. Irak terkena sangsi kepungan dan ditahan darinya makanan serta bantuan kemanusiaan. Kemudian dikepung negeri Syam (Suriah, Libanon, Yordania, Palestina) dan ditahan darinya makanan dan bantuan-bantuan. Sungguh telah terbukti sabda Rasulullah, "Hampir saja tidak boleh dibawa ke negeri Irak sepiring makanan atau sebuah dirham." Kami (para sahabat) bertanya, 'Siapa yang melakukan itu ya Rasulullah?' Beliau menjawab, "Orang-orang ajam (non-arab) yang melakukan tersebut." Kemudian beliau SAW berkata, "Hampir saja tidak boleh dibawa sepiring makanan atau sebuah dirham kepada kaum Syam." Lalu kami menanyakan lagi, 'Siapa lagi yang melakukan itu ya Rasulullah?' Beliau menjawab, "Orang-orang Rum (Eropa dan Amerika)." (HR. Muslim dan Ahmad)

11. Adanya gencatan senjata dan perdamaian antara kita (Muslim) dengan orang-orang Rum (Eropa dan Amerika). Tanda ini merupakan tanda kecil yang terakhir, karena setelah itu akan terjadi lagi peperangan yang sangat dahsyat, dimana dalam peperangan ini umat Muslim akan dipimpin oleh Imam Mahdi. Perang ini merupakan perang sekutu (internasional) atau perang Armageddon, dimana setelah perang Armageddon ini orang-orang Rum (Eropa dan Amerika) akan mengkhianati kaum Muslimin dengan peperangan yang paling besar dan paling dahsyat. Hal ini akan disampaikan dalam bagian selanjutnya dari bahasan ini.

Telah bersabda Rasulullah SAW, "Aku menghitung ada enam perkara yang akan terjadi menjelang hari kiamat, yaitu: Kematianku, penaklukan Baitul Maqdis (telah terjadi pada zamannya Umar bin Khattab, ket. peringkas), kemudian kematian massal, kemudian melimpahnya uang (harta) sehingga apabila seseorang diberi gaji dinar maka ia tetap tidak puas, kemudian muncul fitnah yang memasuki setiap rumah orang Arab. Kemudian adanya perdamaian (gencatan senjata) antara umat Islam dan Bani Ashfar (Rum atau Eropa dan Amerika). Kemudian mereka mengkhianati kamu, dimana mereka akan menyerangmu di bawah 80 bendera, dan di bawah tiap-tiap bendera itu terdapat dua belas ribu tentara." (HR. Bukhary, Ahmad, dan Thabrani)

[Diringkas dari buku "Umur Umat Islam, Kedatangan Imam Mahdi, dan Munculnya Dajjal" karya Amin Muhammad Jamaluddin. Halaman 13-23. Terjemahan diterbitkan oleh Penerbit Cendekia, cetakan keempat belas, Mei 2004.]
]]>
Larangan menyakiti tetanggahttp://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=211http://www.oaseqalbu.net/?p=211Thu, 06 May 2010 18:48:58 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

"Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman." Seseorang bertanya, "Siapakah dia, wahai Rasulullah?" Rasulullah saw. menjawab, "Barang siapa yang tetangganya tidak merasa aman dari perilaku buruknya." (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain beliau bersabda yang artinya, "Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari perilaku buruknya."

Rasulullah saw. ditanya tentang dosa yang paling besar di sisi Allah. Maka beliau menyebutkan tiga hal, yaitu kamu menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang menciptakanmu, kamu membunuh anakmu karena takut jika kelak ia makan bersamamu, dan kamu berzina dengan kekasih (istri) tetanggamu. (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasai dari Abdullah bin Masud r.a.)

Dalam hadis lain Rasulullah saw. bersabda yang artinya, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya tidak menyakiti tetangganya." (HR Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah)

Tetangga itu ada tiga; tetangga muslim yang masih kerabat, tetangga muslim dan tetangga kafir. Tetangga pertama memiliki tiga hak; hak sebagai tetangga, hak sebagai muslim, hak sebagai kerabat. Tetangga yang kedua memiliki dua hak; hak sebagai tetangga dan hak sebagai orang Islam. Tetangga yang ketiga memiliki satu hak yaitu hak sebagai tetangga.

Abdullah bin Umar bertetangga dengqan seorang Yahudi. Jika dia menyembelih kambing selalunya dia berkata, "Bawakan sebagian dagingnya untuk tetangga kita yang Yahudi itu."

Diriwayatkan bahwa pada hari kiamat nanti seorang tetangga yang miskin akan mengikuti tetangga yang kaya. Ia akan berkata, "Duahi Rabbku, tanyakan kepadanya mengapa ia menghalangiku dari kebaikannya dan menutupkan untuk pintu uluran tangannya."

Seorang tetangga selayaknya menanggung adza(kesusahan yang disebabkan oleh tetangganya). Ini merupakan ihsan (sikap baik) kepadanya. Seseorang mendatangi Nabi saw. dan bertanya, "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan jika aku mengerjakannya aku pun dapat masuk surga." Beliau menjawab, "Jadilah orang yang penuh dengan sifat ihsan." Orang itu bertanya, "Wahai Rasulullah bagaimana aku mengetahui bahwa aku ini seorang muhsin (orang yang dipenuhi sifat ihsan)?" Beliau menjawab, "Bertanyalah kepada tetanggamu. Jika mereka mengatakan bahwa kamu adalah orang muhsin berarti memang kamu seorang muhsin. Namun, jika mereka mengatakan bahwa kamu adalah orang musi' (orang yang dipenuhi sifat isa'ah (tidak baik)) berarti kamu memang seorang musi' (HR Al- Baihaqi dari Abu Hurairah)

Telah sampai kabar dari Nabi bahwa beliau bersabda yang artinya, "Barang siapa menutup pintunya dari tetangganya karena khawatir akan mengurangi (bagian) keluarga dan hartanya, maka dia bukanlah seorang mukmin. Tidak pula seorang beriman jika tetangganya tidak merasa aman dari perilaku buruknya." (HR Al-Kharaithi dalam Makarimul Akhlaq dari Amru bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya, Abdullah bin Amru bin Ash)

Diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersada yang artinya, "Seseorang berzina dengan sepuluh wanita itu lebih ringan urusannya daripada ia berzina dengan istri tetangganya. Seorang yang mencuri dari sepuluh rumah itu lebih ringan urusannya daripada ia mencuri dari rumah tetangganya." (HR Ahmad, para perawinya kuat. Juga oleh Thabrani dalam Mu'jamul Kabiir dan Al-Mu'jaamul Ausath dari hadits Miqdad bin Aswad)

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa seorang mengadukan tetangganya kepada Rasulullah saw. beliau bersabda, "Pergi dan bersabarlah." Orang itu menghadap Nabi untuk yang kedua kali atau ketiga kalinya, lalu beliau bersabda, "Pergi dan jangan letakkan semua perbendaharaanmu di jalan." Orang itu pun mengikuti sabda Nabi. Orang-orang mengerumuninya dan bertanya tentang permasalahannya. Ia menceritakan semuanya sehingga semua yang hadir mulai melaknat tetangganya. Mereka berucap, "Semoga Allah membalasnya." Mereka mendoakan yang buruk-buruk untuk tetangga itu.
Selanjutnya tetangganya itu datang dan berkata, "Wahai saudaraku, pulanglah ke rumahmu, setelah ini kamu tidak akan melihat sesuatu yang tidak kamu sukai selama-lamanya."

Diwajibkan pula menanggung kesusahan disebabkan tetangga yang dzimmi (orang kafir yang membayar jizyah sebagai jaminan kehidupan di pemerintahan Islam) sekalipun. Diriwayatkan bahwa Sahl bin Abdullah at-Tustari mempunyai seorang tetangga Majusi dzimmi. Tetangganya itu memiliki wc yang bocor dan dari sebuah lobang. Sebagian airnya mengalir ke salah satu bagian rumah Sahl. Setiap hari Sahl meletakkan sebuah bejana di bawah mengalirnya air itu untuk menampungnya. Sahl membuangnya di malam hari agar tidak diketahui orang lain. Demikian ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya, menjelang wafat Sahl minta dipanggilkan tetanggannya yang Majusi itu. Ia berkata, "Masuklah kesitu dan lihatlah!" Orang itu masuk dan melihat sebuah lobang dan air bercampur kotoran jatuh dalam bejana. Ia bertanya, "Apa yang kulihat ini?" Sahl menjawab, "Yang demikian ini sudah berlangsung lama. Air itu mengalir dari rumahmu. Aku mewadahinya di siang hari dan membuangnya di malam hari. Jika bukan karena sudah dekat ajalku, dan kekhawatiranku kepada akhlak selainku, niscaya aku tidak akan memberitahukan kepadamu tentang hal ini. Sekarang lakukan apa yang kamu mau." Orang Majusi itu berkata, "Wahai Syaikh, anda telah mempergauliku seperti ini sejak lama dan aku tetap berada diatas kekufuranku. Ulurkan tangan anda, aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah." Lalu Sahl pun wafat.

Marilah kita memohon kepada Allah agar menunjukkan kepada kita akhlak perbuatan dan ucapan yang mulia. Semoga pula Dia menjadikan akhir kehidupan kita akhir yang baik. Sesungguhnya dia Maha Memberi, Maha Pemurah, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Wallaahu a'lam bish-Showaab.

Sumber: Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia sebagaimana disadur dari Al-Kabaair, Syamsuddin Muhammad bin Utsman bin Qaimaz at-Turkmani al-Fariqi ad-Dimasyqi asy-Syafii
]]>
Pentingnya Kejujuranhttp://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=783http://www.oaseqalbu.net/?p=783Fri, 30 Apr 2010 17:45:13 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

Pada awal kerasulannya, Muhammad SAW pernah bertanya kepada kaum Quraisy, "Bagaimana pendapatmu sekalian kalau kukatakan bahwa pada permukaan bukit ini ada pasukan berkuda? Percayakah kalian?"

Jawab mereka, "Ya, engkau tidak pernah disangsikan. Belum pernah kami melihat kau berdusta.".

Jawaban orang Quraisy itu disampaikan secara spontan karena yang bertanya adalah Muhammad bin Abdullah. Sosok yang selama ini mereka gelari dengan Al Amin, orang yang dipercaya.

Ada fenomena menarik dari penganugerahan gelar Al-Amin ini. Pertama, gelar Al-Amin lahir dari mulut orang-orang Quraisy. Padahal, sejarah mencatat bahwa peradaban Quraisy saat itu dan jazirah Arab umumnya berada di tengah peradaban Jahiliyyah. Sebuah peradaban yang sudah tidak bisa lagi membedakan antara yang hak dan batil, antara yang halal dan haram. Sebuah peradaban yang sudah sangat rusak dan bobrok.

Namun, kejujuran Muhammad bin Abdullah tidak luntur oleh peradaban di sekelilingnya. Justru orang-orang yang hidup di peradaban Jahiliyah itu (Quraisy) secara sukarela memberikan penghargaan kepada kejujuran Muhammad dengan menggelarinya Al-Amin.

Hikmah pertama dari gelar ini, sepertinya Allah ingin memberikan pelajaran bahwa kejujuran adalah sebilah mata uang yang tidak saja akan senantiasa berlaku. Tetapi, juga akan selalu berharga di manapun dan kapan pun, sekalipun di tengah peradaban yang carut-marut.

Kedua, gelar Al-Amin ini telah diberikan oleh orang-orang Quraisy jauh sebelum masa kerasulannya, kira-kira pada usia 15-20 tahun. Penganugerahan gelar Al-Amin yang sudah melekat jauh sebelum Muhammad diangkat sebagai Rasul ini mengandung pelajaran bahwa kejujuran adalah modal awal sekaligus modal sebaik-baiknya untuk menempuh kehidupan. Baik dalam kedudukan Muhammad selaku hamba Allah maupun sebagai khalifah di muka bumi, tidak terkecuali dalam menjalankan amanah kepemimpinan di hadapan sesama umat manusia. Lawan dari kejujuran adalah perilaku dusta. Mengenai hal ini Rasulullah berpesan, "Hendaklah kamu sekalian menjaga diri dari berperilaku dusta. Sesungguhnya dusta akan selalu membawa kepada kejahatan, dan sesungguhnya setiap kejahatan akan menyeret pelakunya ke dalam neraka."

Dusta berpotensi membawa pelakunya untuk berbuat jahat. Seorang pencuri, ketika ia mencuri pada dasarnya ia sedang tidak jujur kepada dirinya sendiri, karena barang yang ia ambil bukan miliknya. Orang yang dengan sengaja meninggalkan shalat, zakat, dan berbagai syariat lainnya, pada dasarnya orang itu sedang tidak jujur pada dirinya sendiri. Ia telah mengingkari jati dirinya sebagai seorang khalifah maupun hamba Allah.

Alhasil, orang mukmin sudah seharusnyalah menegakkan kejujuran, di manapun dan kapan pun. Jujur pada diri sendiri dan orang lain.

[Rudy Swardani]]]>
Syaikh Muhammad bin Sirinhttp://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=56http://www.oaseqalbu.net/?p=56Wed, 28 Apr 2010 16:49:38 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

Sabili No.26 Th.IX

Sirin adalah salah seorang hamba sahaya dari sahabat Anas bin Malik ra. Ketika ia dimerdekakan, ia langsung mengutarakan niatnya untuk menikah. Sedangkan wanita yang ingin dinikahinya adalah Shofiyah, seorang hamba sahaya Abu Bakar ra. Shofiyah adalah seorang hamba sahaya yang sangat disayangi oleh keluarga Abu Bakar. Ketika Sirin melamar Shofiyah, Abu Bakar meneliti dirinya dengan penuh seksama. Bukan itu saja, bahkan Anas bin Malik sempat dimintai pendapatnya oleh Abu Bakar tentang Sirin ini. Anas meyakinkan Abu Bakar, seraya berkata, "Percayalah, Sirin adalah orang baik yang memiliki akhlak mulia. Saya telah mengenalnya sejak lama. Insya Allah dia tidak akan mengecewakan Anda."

Mendengar jaminan tersebut, lamaran Sirin diterima. Kemudian diadakan walimah besar dan istimewa. Dikatakan istimewa, karena pesta pernikahan dihadiri oleh delapan belas orang ahlu Badar dan ummul Mukminin, Siti Aisyah ra. Pada saat resepsi, bertindak selaku pembaca doa adalah sahabat Ubay bin Ka'ab. Sedangkan Aisyah bertugas merias pengantin wanita.

Singkat cerita, dari perkawinan mulia ini, Allah menganugerahi mereka seorang anak bernama Muhammad bin Sirin. Dua puluh tahun kemudian ia menjadi salah seorang ulama besar dari kalangan tabi'in. Memang, sejak kecil ia belajar Islam kepada para sahabat Rasul yang ada di Madinah, di antara mereka adalah Zaid bin Tsabit, Anas bin Malik, Ubay bin Ka'ab, dan sebagainya. Ketika ia berusia 14 tahun, ia berhijrah ke Basrah, pusat peradaban Islam waktu itu. Banyak orang Romawi dan Persia yang baru masuk Islam juga menimba ilmu keagamaan di kota itu. Banyak ulama besar yang tinggal di Basrah, salah satunya adalah Hasan Al-Bashri.

Dalam keseharian, Muhammad bin Sirin membagi waktunya untuk melakukan tiga aktivitas: beribadah, mencari ilmu, dan berdagang. Sebelum Subuh sampai waktu Duha ia berada di masjid al-Basrah. Di sana ia belajar dan mengajar berbagai pengetahuan Islam. Setelah Duha hingga sore hari ia berdagang di pasar. Ketika berdagang ia selalu menghidupkan suasana ibadah dengan senantiasa melakukan dzikir, amar ma'ruf, dan nahi munkar. Malam hari, ia khususkan untuk bermunajat kepada Allah SWT. Tangisannya yang keras ketika berdoa terdengar sampai ke dinding-dinding rumah tetangga.

Dalam menggeluti dunia perdagangan, ia sangat berhati-hati sekali. Ia khawatir kalau-kalau terjebak ke dalam masalah yang haram. Sehingga apa yang dilakukannya seringkali membuat orang lain merasa heran. Suatu ketika, ada seseorang menagih hutang kepadanya sebanyak dua dirham. Sedangkan ia sendiri tidak merasa berhutang. Orang tersebut tetap bersikukuh dengan tuduhannya. Karena ia mempunyai bukti, selembar kertas perjanjian hutang yang tertera di atasnya tanda tangan Muhammad bin Sirin. Dengan penuh paksa, ia meminta Muhammad bin Sirin untuk melakukan sumpah. Ketika ia hendak bersumpah, banyak orang yang merasa heran mengapa ia menuruti kemauan si penuduh itu. Salah seorang rekan Muhammad bin Sirin bertanya, "Syaikh, kenapa Anda mau bersumpah hanya untuk masalah sepele, dua keping dirham, padahal baru saja kemarin anda telah merelakan 30 ribu dirham untuk diinfakkan kepada orang lain." Lantas Muhammad bin Sirin menjawab, "Iya, saya bersumpah karena saya tahu bahwa orang itu memang telah berdusta. Jika saya tidak bersumpah, berarti ia akan memakan barang yang haram."

Di lain waktu ia dipanggil oleh Umar bin Hubairah, Gubernur Irak. Gubernur menyambut kedatangannya dengan meriah. Setelah berbasa-basi sejenak, Hubairah bertanya kepadanya, "Bagaimana pendapat Syaikh tentang kehidupan di negeri ini?"

Dengan penuh keberanian, ia menjawab pertanyaan gubernur, "Kezaliman hampir merata di negeri ini. Saya melihat anda selaku pemimpin kurang perhatian terhadap rakyat kecil." Belum lagi Muhammad bin Sirin selesai berbicara, salah seorang keponakannya yang juga ikut ke istana gubernur mencubit lengan sang syaikh, sebagai isyarat agar Muhammad bin Sirin menghentikan kritikan pedasnya kepada sang gubernur. Dengan tegas ia berkata kepada keponakannya itu, "Diamlah engkau, kalau saya tidak mengkritik gubernur, maka nanti sayalah yang akan ditanya di akhirat. Apa yang saya lakukan merupakan persaksian dan amanah umat. Barangsiapa menyembunyikan amanah ini, niscaya ia berdosa."

Sang gubernur sempat termenung sejenak karena terperangah dengan teguran keras dari salah seorang rakyatnya. Tapi ia segera sadar bahwa ia harus bertanggung jawab untuk mengatasi keadaan yang menyedihkan yang menimpa negerinya.

Setelah beberapa saat berada di istana gubernur, ia segera mohon pamit untuk pulang. Gubernur hendak memberikan uang kepadanya sebesar 40 ribu dirham. Tapi ia malah menolaknya. Keponakannya merasa heran mengapa ia harus menolak pemberian itu. Lagi-lagi ia mengingatkan kepada keponakannya seraya berkata, "Ketahuilah, dia memberi hadiah kepadaku karena dia menyangka aku adalah orang yang baik. Kalau aku baik, maka tidak pantas untuk menerima uang itu. Sedangkan jika aku tidak sebaik yang ia sangka, lebih tidak pantas lagi aku mengambilnya."

Kehidupan Muhammad bin Sirin memang tidak luput dari ujian. Suatu ketika ia membeli minyak sayur dalam jumlah besar untuk kepentingan usaha perdagangannya. Ia membelinya dengan sistem kredit. Ketika salah satu kaleng minyak itu dibuka, di dalamnya didapatkan bangkai tikus yang sudah membusuk. Sejenak ia mulai berpikir, apakah ia harus mengembalikannya atau tidak, sesuai dengan perjanjian yang mengatakan, "Apabila terdapat aib pada barangnya, maka ia berhak mengembalikannya." Tapi, ia mengkhawatirkan tentang sesuatu. Apabila ia mengembalikannya, tentu si pedagang minyak sayur itu akan menjualnya kepada orang lain lagi. Sedangkan tempat pembuatan minyak hanya satu. Sudah barang tentu seluruh minyak telah tercemar oleh bangkai tikus itu. Jika dijual kepada orang lain, maka akan tersebarlah bangkai dan najis itu ke setiap orang. Atas pertimbangan tersebut, maka dibuanglah seluruh minyak itu. Ketika datang penjual minyak itu untuk menagih, ia tidak memiliki uang. Ia segera diadukan kepada qadi (hakim pengadilan). Maka ia pun dipanggil untuk diadili. Setelah itu ia dipenjarakan karena kasus tersebut.

Di dalam penjara, petugas merasa sangat kasihan kepadanya. Karena petugas menilainya sebagai orang shalih. Suara tangis yang mengiringi setiap shalat dan munajatnya selalu terdengar oleh petugas tersebut. Setelah memandang iba kepadanya, penjaga penjara itu berkata kepadanya, "Syaikh, bagaimana kalau saya menolong anda. Saat malam anda boleh pulang ke rumah. Keesokannya anda datang lagi ke sini. Apa anda setuju?" Ia menjawab, "Kalau engkau melakukan demikian, maka engkau telah berlaku khianat. Saya tidak setuju."

Sebelum wafat, Anas sempat berwasiat agar yang memandikan dan menguburkannya adalah Muhammad bin Sirin. Salah seorang kerabat Anas bin Malik memohon kepada petugas penjara agar Muhammad bin Sirin diizinkan menunaikan wasiat gurunya. Petugas mengizinkannya. Tetapi, Muhammad bin Sirin berkata, "Saya dipenjara bukan karena penguasa. Tapi karena pemilik barang. Saya tidak akan keluar sampai pemilik barang mengizinkannya. Setelah pemilik barang mengizinkannya, berangkatlah ia ke tempat Anas bin Malik dibaringkan.

Usai mengurus jenazah Anas bin Malik, ia kembali ke penjara tanpa mampir ke rumahnya barang sejenak pun. Pada usia ke 102 tahun, ia wafat. Duka cita meliputi seluruh penduduk Basrah. Karena telah kehilangan seorang ulama besar yang mempunyai kharisma yang tinggi. ]]>
Menegakkan Keadilanhttp://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=112http://www.oaseqalbu.net/?p=112Mon, 26 Apr 2010 04:21:11 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

Sumber : Milist Sabili

Oleh : Atik Fikri Ilyas


Suatu waktu Pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab mengumumkan pembagian kain baju dari negara kepada seluruh kaum Muslimin. Pembagian ditetapkan harus adil dan sama rata. Tidak ada bedanya jatah untuk kepala negara, pejabat negara, atau rakyat biasa. Pembagian baju dinyatakan selesai.

Seluruh warga mendapatkan bagiannya sama rata, tak terkecuali Umar bin Khathab. Namun, sang kepala negara tampak memakai baju yang besar karena badannya besar. Dan, orang-orang mengetahuinya karena pembagian dilaksanakan secara terang-terangan. Ketika Umar berkhutbah memberi semangat kepada kaum Muslimin untuk berdakwah memperluas wilayah syiar Islam dan menjelaskan keutamaannya dengan mengatakan 'Dengarlah dan taatilah perkataanku ini ...' tak ada suara gemuruh mendukung khutbahnya.

Malah secara bergantian terdengar suara cukup nyaring, 'Tidak ada perhatian dan tidak pula ketaatan. Tidak ada tentara yang maju dengan senjata-senjatanya di medan pertempuran!' Umar terheran-heran mendapati suasana yang berbeda dari biasanya itu. Lalu ia bertanya, 'Mengapa sikap kalian berubah?'

Kemudian seseorang berkata dengan nada tinggi, 'Engkau mengambil kain sebagaimana yang kami ambil, tapi bagaimana kain itu pas bagimu sedangkan engkau laki-laki berbadan tinggi besar? Pasti ada sesuatu yang engkau khususkan untuk dirimu sendiri!' Mendengar pernyataan itu, Umar lalu memanggil putranya, Abdullah bin Umar.

Putranya itu diminta menjadi saksi dan mengumumkan kepada khalayak apa yang sebenarnya terjadi. Abdullah bin Umar pun bersaksi bahwa ia memberikan bagiannya kepada ayahnya sehingga ayahnya dapat memakai pakaian yang menutup auratnya, sesuai dengan postur tubuhnya yang tinggi bersar. Orang yang berbicara lantang tadi pun duduk dan berkata, 'Sekarang kami mendengar dan kami taat.' Sikap ini kemudian diikuti oleh segenap hadirin.

Subhanallah, betapa indah hubungan antara kepala negara dan rakyatnya. Kepala negara merasa tidak harus dilebihkan dari rakyatnya dan bebas ditegur, direformasi oleh warganya. Dalam artian, kepala negara ingin dimiliki dan berbuat untuk rakyat. Begitu pula, sistem pemerintahannya memandang semua warga sama dalam hak dan kewajiban.

Itulah seharusnya sikap seorang kepala negara. Ia tidak takut memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingannya sendiri. Begitu pula keluarganya yang tidak menggunakan posisi itu untuk memperkaya diri.

Mungkin kehidupan bernegara seperti di atas sulit didapatkan saat ini, apalagi di negara kita, di mana korupsi, kolusi, dan nepotisme sudah membudaya di setiap lini pemerintahan. Namun, semua itu bukannya mustahil diubah atau direformasi. Segalanya tergantung pada keseriusan dan kegigihan kita bersama. Masalahnya kita mau atau tidak.]]>
Wara-nya seorang ibuhttp://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=95http://www.oaseqalbu.net/?p=95Sun, 25 Apr 2010 17:10:23 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

Sabili No.26 Th.IX

Seorang ibu datang kepada Imam Ahmad bin Hambal untuk meminta fatwa mengenai pengalaman yang baru saja dialaminya. Dengan wajah bimbang, ia bertanya,

"Wahai pelita umat Islam, sesungguhnya saya ini perempuan tak punya. Saking melaratnya, sampai lampu untuk menerangi rumah pun kami tak punya. Karena pada siang hari saya harus mengurus pekerjaan rumah, maka saya mencari makan untuk kami sekeluarga pada malam hari.

Yang dapat saya lakukan untuk menopang kami sekeluarga adalah dengan merajut benang. Rajutan benang itu yang akan saya jual ke pasar. Untuk melakukan pekerjaan itu, biasanya saya menunggu bulan purnama, karena cahayanya cukup untuk menerangi kegiatan merajut benang," ungkapnya kepada Imam Ahmad bin Hambal.

"Akan tetapi suatu ketika, lewatlah serombongan kafilah di depan rumah saya pada malam buta dengan membawa lampu yang sangat banyak. Maka, tidak saya sia-siakan kesempatan itu. Selagi mereka berdiri di tepi jalan pada saat lewatnya iring-iringan mereka, kesempatan itu saya gunakan untuk memintal beberapa lembar kapas," lanjut perempuan itu tertunduk.

"Adapun yang saya tanyakan adalah: apakah uang hasil penjualan benang yang saya pintal dalam cahaya lampu milik iring-iringan kafilah itu halal bagi saya?"

Dengan seksama Imam Ahmad bin Hambal mendengarkan perkataan Sang Ibu tadi. Setelah sebuah pertanyaan dilontarkan si Ibu muslimah itu, dalam kekaguman yang tidak dapat disembunyikan, Imam Ahmad balik bertanya, "Siapakah Anda, yang menaruh perhatian terhadap perkara agama sedemikian besarnya di zaman ini, pada saat masyarakat Islam telah dikuasai oleh kelalaian dan kekikiran terhadap harta?"

"Saya adalah saudara perempuan Basyar Al Hafi Rahimahullah," jawab si ibu, masih dengan kerendahan hatinya.

Mendengar jawaban itu, spontan Imam Ahmad menangis tersedu-sedu. Itu tak lain karena yang baru saja disebut oleh si ibu tadi adalah nama seorang gubernur yang saleh dan mutashawwir yang lurus hati. Beberapa saat kemudian Imam Ahmad terdiam dan belum dapat menjawab pertanyaan perempuan di hadapannya itu. Ia sibuk berdoa memohonkan rahmat atas gubernur yang shalih dan terus memujinya.

Beberapa saat kemudian, barulah beliau berkata, "Sesungguhnya kain penutup wajah yang anda kenakan adalah lebih baik daripada sorban-sorban yang kami pakai. Sesungguhnya kami ini tak patut jika dibandingkan dengan orang-orang tua yang telah mendahului kita, ya Sayyidati. Sedangkan anda, ya Sayyidati, perempuan yang demikian luhur takwanya dan rasa takutnya kepada Allah SWT. Tentang pertanyaan yang anda ajukan, sebenarnya, tanpa ijin rombongan kafilah itu, tidak halallah bagi anda uang hasil penjualan benang tersebut." ]]>
Karya-Karya Terpuji dari Balik Jeruji (3/3)http://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=452http://www.oaseqalbu.net/?p=452Mon, 05 Apr 2010 17:21:49 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

AM Fatwa

Saya dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan terlibat peristiwa Tanjung Priok tahun 1984. Saya menjadi terdakwa pidana politik (subversif), karena kegiatan yang saya lakukan berhubungan dengan kebebasan beragama. Saya didakwa 18 tahun penjara.

Saya coba merenungkan dosa apa yang telah saya perbuat? Saya telusuri masalahnya kembali dan menemukan jawabannya. Dengan memperhatikan seluruh proses pengadilan mulai dari penyusunan berita acara (BAP) sampai jatuhnya vonis hakim, jelas bahwa tuduhan makar terhadap saya bersumber karena saya tidak mau menutup mulut melihat penyimpangan yang terjadi di depan mata.

Memang harus dijelaskan bahwa saya dengan sadar ikut bicara mengenai penyimpangan itu. Bahwa itikad baik saya kemudian dituduh sebagai subversif, adalah risiko yang harus saya pikul. Sementara penguasa tampaknya memang tak berkenan menerima pendapat yang lain. Atas hal ini saya bertanggung jawab penuh dan siap menerima risikonya.

Namun saya bersyukur karena hati saya dibesarkan oleh kata-kata Sir Oliver Lodge, seorang negarawan Inggris yang sesuai benar dengan ajaran-ajaran agama: No sacrifice is wated, tidak ada penderitaan sia-sia.

Meskipun mereka yang begitu dalam perasan dendamnya berhasil memasukkan saya ke penjara, tetapi Alhamdulillah saya berhasil bangkit dengan kepercayaan diri sendiri, bahwa saya tidak melakukan kejahatan seperti yang dituduhkan oleh jaksa penuntut umum.
Saya berdoa jangan sampai kehilangan kemampuan berfikir ketika berada di dalam penjara. Ya, berfikir dengan berorientasi ke masa depan.

Di sela-sela menjalani kehidupan di penjara saya masih menyempatkan menulis surat kepada sahabat. Saya banyak terilhami oleh kebiasaan Bung Karno dan Bung Hatta di masa pemenjaraanya. Kedua tokoh itu gemar sekali surat menyurat dengan tokoh-tokoh tertentu.

Demikian halnya dengan saya. Sejak dari Inrehab Cimanggis, Rutan Salemba, LP Cipinang, LP Cirebon, LP Sukamiskin, dan LP Bogor, banyak sekali surat-surat yang saya tulis ke beberapa tokoh.

Saat dipindah dari LP Sukamiskin Bandung ke LP Bogor situasi politik mulai berubah. Fenomenanya dapat terbaca dengan pendekatan kepada ummat Islam seperti fasilitas dan jalan mulus untuk mendirikan Bank Muamalat dan terbentuknya ICMI.

Dari LP Bogor saya mengirim telegram dukungan kepada Munas pembentukan ICMI di Malang tahun 1990. Dan, setelah saya dipindahkan ke LP Cipinang saya sudah mengajukan aplikasi menjadi anggota ICMI meskipun masih berada dalam penjara.

Ketika Menteri Munawir Sadjali sedang berihtiar untuk meringankan hukuman saya, dikirimkannya buku karangannya yang bertema Islam dan Ketatanegraan serta sebuah guntingan koran Pelita yang memuat pidatonya di IAIN Yogyakarta. Ia meminta tanggapan dan komentar saya.

Tanggapan itu saya tuangkan dalam dalam bentuk paper kecil berjudul Saya Menghayati dan Mengamalkan Pancasila Justru Saya Seorang Muslim. Judul ini sebenarnya terilhami oleh suatu tulisan Mr. Mohammad Roem di Majalah Panji Masyarakat belasan tahun lalu yang terdapat kalimat seperti itu.

Saya menulis semua surat dan buku itu dalam kondisi tanpa kebebasan dan keterbatasan fasilitas. Karena itu maklum jika mengandung kelemahan. Namun saya berharap didapatkan hikmah dan pelajaran dari buku tersebut. * (Bahrul Ulum, disarikan dari buku "Saya Menghayati dan Mengamalkan Pancasila Justru Saya Seorang Muslim" dan "Demokrasi dan Keyakinan Beragama Diadili"/Hidayatullah)

Abdul Qadir Jaelani
"Empat Jam Sehari Membaca dan Menulis"

Saya menjalani kehidupan di penjara selama 15 tahun, sejak zaman Orde Lama sampai Orde Baru. Penjara Orde Lama (1961) saya rasakan selama 6 bulan karena waktu itu saya sebagai Ketua Wilayah PII Jakarta mengeluarkan surat pernyataan menuntut pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) di seluruh Indonesia.

Saya bersama sekretaris saya waktu itu, Hardi M. Arifin, ditangkap oleh KMKBDR (Komando Militer Kota Besar Djakarta Raya) yang dipimpin oleh Kapten Dahyar dan ditahan di rumah tahanan militer RINDAM Condet Jakarta Timur bersama para tahanan PRRI dan Permesta. Setelah enam bulan saya dibebaskan, tanpa melalui proses pengadilan

Akhir tahun 1963, kembali saya ditangkap. Kali ini oleh BPI (Badan Pusat Intelijen) yang dipimpin Brig. Jend. Pol. Sutarto, sebulan setelah PB PII pada Konferensi Besar PII di Bandung mengeluarkan satu ikrar untuk menentang rezim Soekarno dan PKI sampai tumbang.

Selain bersama beberapa pengurus PII, saya ditahan bersama para ulama. Di antaranya, Buya HAMKA, KH Dalari Oemar, KH Ghazali Sahlan, Kolonel Nasuchi, Abdul Mu'thie, H Zamawi. Kami bersama-sama dikumpulkan di asrama Sekolah Perwira Kepolisian Gunung Puyuh Sukabumi. Di sini setiap tahanan diperiksa nonstop oleh tim yang terdiri dari enam orang perwira polisi, yang setiap 6 jam sekali bertugas dua orang.

Pemeriksaan dilakukan selama dua minggu, disertai penyiksaan di luar batas kemanusiaan, seperti dimasukkan ke dalam bak berisi air, kemudian air dialiri listrik. Ada juga tahanan yang ditelanjangi dan kemaluannya disetrum. Setelah 5 hari 5 malam, saya sudah pingsan karena diperiksa terus seperti itu.

Saya dituduh mengadakan rapat gelap di rumah mantan tokoh Masyumi Tangerang yang dihadiri oleh Buya HAMKA, KH Dalari Oemar, KH Ghazali Sahlan, Kolonel Nasuchi, Abdul Mu'thie, H. Zamawi dan empat orang tokoh Pemuda Rakyat (PR) dan Barisan Tani Indonesia (BTI) yang berencana menggagalkan Pesta Olah Raga Ganefo di Jakarta. Tuduhan ini saya tolak, karena tidak pernah ada rapat semacam itu.

Beberapa hari setelah pemeriksaan, saya bersama tokoh Islam lainnya dipindahkan ke Jakarta. Saya diturunkan di Markas Polisi Brimob Cilincing, Tanjung Priok, setelah yang lain diturunkan satu persatu di tempat yang berbeda.

Di tempat itu saya dimasukkan ke ruang sel tahanan yang gelap tanpa lampu, kotor, penuh debu dan sarang laba-laba. Untuk buang air kecil hanya disediakan sebuah kaleng.

Satu-satunya buku yang dibaca hanya Al-Qur`an dan makanan yang ada cuma nasi campur jagung. Keadaan ini saya jalani selama 4 bulan. Selama itu saya belum boleh dijenguk keluarga.

Setelah genap setahun, saya dipindahkan ke tahanan Markas Besar Kepolisian di Kebayoran Baru Jakarta. Di sini saya bertemu dengan para tahanan PRRI, PERMESTA, tokoh Masyumi dan GPII, seperti Mawardi Noer, KH. Hamidullah, dan Djanamar Ajam.

Di tempat inilah saya baru bisa berdiskusi dan belajar, baik masalah-masalah politik, militer, maupun Islam. Akhir November 1965, saya dibebaskan setelah kegagalan kudeta yang dilakukan oleh PKI.

Setelah itu beberapa kali lagi saya diperiksa dan ditahan terkait dengan kegiatan dakwah dan perjuangan saya menegakkan Islam. Pada masa Orde Baru saya beberapa kali ditangkap, disiksa, dan diperiksa.

Yang terakhir, tanggal 16 Desember 1985, saya divonis penjara 18 tahun, karena menurut Berita Acara Pemeriksaan (BAP), ceramah, tulisan, dan pandangan saya tentang ideologi negara (Pancasila), politik, ekonomi dan kebejatan moral bangsa.

Selama menjadi narapidana politik (Napol) inilah saya banyak menulis. Secara ketat saya mencoba mengatur jadwal harian kegiatan saya. Karena menurut saya, jika tidak demikian maka saya tidak akan mendapatkan manfaat dari kehidupan penjara berpuluh tahun di LP Cipinang tersebut.

Untuk kepentingan membaca dan menulis, saya diizinkan memasukkan buku-buku. Tak kurang 500 judul buku tersusun di perpustakaan saya. Buku-buku ini datang silih berganti, tergantung topik yang saya tulis. Setiap harinya dari jam 08.00 sampai 12.00 saya khususkan waktu untuk membaca dan menulis. Dan, puku 16.00 sampai 18.00 untuk tadarusan Al-Qur`an.

Dengan jadwal kegiatan semacam ini, saya dapat menulis buku sebanyak 5000 halaman dalam bentuk ketikan skripsi, sebulan tiga kali tamat Al-Qur`an, setiap hari shalat malam, dan puasa Senin-Kamis. Kegiatan-kegiatan ini masih saya teruskan setelah keluar dari penjara (Agustus 1993, lepas bersyarat).

(Roni Pradana, disarikan dari buku "Anak Rakyat Jelata Mencoba Berjuang Menegakkan Islam" dan wawancara/Hidayatullah).]]>
Rakyat Kritis dan Penguasa Rendah Hatihttp://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=441http://www.oaseqalbu.net/?p=441Thu, 25 Mar 2010 18:27:18 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

Abu Ismail Al-Uzdiy mengisahkan dalam kitab Futuhusy Syaam tentang seorang sahabat Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam, bernama Khalid bin Said, yang hendak memenuhi panggilan jihad di zaman Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Setelah menyiapkan baju perang, senjata dan perbekalan lainnya, ia menyempatkan diri menemui sang Khalifah. Ia duduk di hadapan Khalifah seraya bertahmid dan bershalawat. Kemudian ia berkata, "Wahai Abu Bakar, sesungguhnya Allah telah memuliakan kami dan engkau dengan agama ini. Maka orang yang paling wajib menegakkan sunnah dan menghapuskan bid'ah serta adil dalam berperilaku adalah pemimpin yang mengurusi seluruh perkara ummat."

Kemudian ia melanjutkan nasehatnya, "Setiap orang yang memeluk agama ini memiliki hak untuk diperlakukan dengan ihsan (adil) karena keadilan penguasa lebih luas manfaatnya. Maka takutlah engkau wahai Abu Bakar atas beban orang-orang yang kau pimpin. Berilah kasih sayang kepada para janda dan anak-anak yatim dan tolonglah orang lemah yang teraniaya. Hendaknya tiada seorang pun dari orang Islam yang kamu senangi, yang mendapatkan porsi kebenaran lebih banyak dari pada orang yang kau benci. Dan janganlah engkau marah selama kau mampu untuk menahannya, karena kemarahan akan menyeretmu dalam kezhaliman.

Dan janganlah engkau mendengki sesama Muslim walaupun engkau mampu melakukannya, karena kedengkianmu terhadap Muslim yang lain akan menjadikannya sebagai musuh bagimu. Jika dia mengetahui hal itu ia pun akan memusuhimu. Bila pemimpin memusuhi rakyatnya dan rakyat memusuhi pemimpinnya akan mengakibatkan kehancuran semuanya. Bersikap lembutlah kepada orang yang berbuat baik. Tegaslah kepada orang yang peragu dan janganlah engkau malu untuk bertindak (dalam kebenaran) karena ejekan orang lain."

Setelah menyampaikan nasehat itu Khalid bin Said berkata, "Berikan tanganmu kepadaku karena aku tidak tahu apakah kita masih bisa berjumpa lagi di dunia ini besok. Bila Allah menentukan kita masih hidup maka kita memohon ampunan-Nya. Tapi bila perpisahan ini untuk selamanya, maka kita telah mengenal Allah dan mengenal wajah Rasul-Nya SAW di surga." Abu Bakar pun kemudian memegang tangan Khalid untuk berbaiat. Setelah itu Khalid menangis. Begitu pula semua yang hadir dalam majelis mereka.

Kisah ini menggambarkan betapa pedulinya seorang ulama dari kalangan rakyat biasa untuk melaksanakan jihad fi sabilillah serta amar ma'ruf nahi munkar terhadap pemimpinnya. Padahal saat itu yang menjadi pemimpin adalah seorang khalifah yang terkenal paling jujur dan termasuk dalam sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Dari riwayat ini kita dapat menarik beberapa pelajaran berharga.

1. Ulama merupakan pengontrol jalannya pemerintahan yang dikendalikan penguasa

Seperti yang dicontohkan Khalid bin Sa'id, sebagai rakyat setiap Muslim juga punya kewajiban sebagai da'i yang selalu memberikan peringatan kepada pemimpin. Dengan menjalankan peran itu, setiap Muslim, terutama para da'i dan aktivis, akan melengkapi sendi-sendi stabilitas dunia yakni: keberdayaan ulama (dengan ilmunya); keadilan para penguasa; kedermawanan orang-orang kaya dan doa para fuqara. Bila salah satu sendi tak berfungsi sebagaimana semestinya, maka akan terjadi instabilitas dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Kata 'ulama merupakan bentuk jama' (plural) dari kata 'alim yang secara etimologis artinya orang yang memiliki ilmu, yang dengan ilmunya itu ia menjadi takut hanya kepada Allah (Faathir: 28) Pengertian ulama tidak terbatas pada orang-orang yang memiliki kafa'ah syar'iyah (kompetensi di bidang syari'ah) saja tapi mencakup semua para ahli di bidang keilmuan apapun yang bermanfaat, asalkan ilmu yang dikuasainya membawa dirinya menjadi orang yang memiliki rasa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Inilah yang mendorong mereka melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar. Para kader dakwah juga merupakan ulama yang harus berperan sebagai waratsatul ambiya' (pewaris para Nabi) yang selalu menegakkan tugas suci ini.

2. Manfaat keadilan yang diterapkan oleh penguasa sangat luas.

Keadilan adalah salah satu inti ajaran Islam yang memiliki kedudukan amat penting. Ini karena sejumlah sebab berikut ini:

Keadilan merupakan jiwa suatu ummat, rahasia kesejahteraannya dan penyebab perkembangan serta kemajuannya.

Keadilan adalah sasaran diutusnya para para rasul di dunia ini. (Al-Hadid: 25). Keadilan merupakan salah satu sifat Allah. Dia memerintahkan agar semua manusia menegakkan keadilan dalam semua aspek kehidupan. (An-Nahl: 90, An-Nisa: 58). Ummat manusia diharuskan menegakkan keadilan (Huud: 85).

Keadilan merupakan salah satu tugas Rasulullah SAW yang harus ditegakkan. (Al-Baqarah 143).

Keadilan adalah sendi untuk menegakkan kebenaran dan untuk menciptakan ketenangan ummat manusia.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa berbuat adil satu jam bagi penguasa lebih baik dari beribadah enam puluh tahun. Dengan berlaku adil, seorang penguasa akan mengayomi semua rakyat, terutama yang lemah dan tertindas, dan akan membatasi kecongkakan rakyat yang merasa kuat. Pantaslah kalau Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa ada tujuh golongan yang kelak akan dinaungi Allah pada hari kiamat yang tiada naungan selain naungan-Nya, salah satunya yaitu penguasa yang adil.

3. Budaya saling menasehati adalah kewajiban setiap umat Islam.

Ada beberapa sebab yang menuntut setiap Muslim, sebagai rakyat sekaligus da'i, untuk melakukan tawashau bil haqqi (saling menasehati dalam kebenaran) dan tawashu bis shabri (saling menasehati dalam kesabaran). Antara lain:

a. Kebaikan ummat Islam (khairiyyatu haadzihil ummah) terletak pada pelaksanaan amar ma'ruf dan nahi munkar. Bila tugas ini tidak dilaksanakan maka akan hilanglah ciri kebaikan umat Islam ini. (Ali Imran: 110)

b. Para da'i adalah tumpuan utama masyarakat yang akan menstabilkan kehidupan. Ciri utama stabilisator adalah senantiasa melakukan islah (perbaikan). Seorang kader tidak cukup hanya menjadi seorang yang shalih (orang yang baik) saja tapi harus menjadi seorang mushlih (orang yang melakukan perbaikan). Orang-orang yang shalih tidak cukup untuk menjadi penyelamat ummat dari kehancuran . Allah SWT menegaskan dalam A-Quran: "Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zhalim sedang penduduknya orang-orang yang melakukan ishlah." (Huud: 117).

c. Di antara ciri manusia yang tidak akan merugi adalah senantiasa saling menasihati dengan kebenaran dan saling menasihati dengan kesabaran (Al-Ashr: 1-3).

d. Di antara hak seorang Muslim dengan Muslim lainnya adalah bila dimintai nasihat oleh saudaranya maka ia harus memberinya.

e. Agama Islam pada intinya adalah nasihat.

Para salafus shalih telah memberikan contoh luar biasa dalam hal saling menasihati. Salah satunya Umar bin Khatthab. Suatu ketika sejumlah sahabat Rasululah tengah mengelilinginya. Tiba-tiba ada seseorang yang berkata, "Ittaqillaha ya Umar (bertakwalah kepada Allah wahai Umar)." Para sahabat yang mengenal Umar dengan kedudukannya sebagai orang manusia yang dijamin masuk surga, marah kepada orang itu. Namun Umar mencegah kemarahan tersebut seraya berkata, "Biarkanlah dia berkata demikian. Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada orang yang tidak mau mengatakan (perkataan itu) dan tidak pula ada kebaikan pada orang yang tidak mau mendengarkannya." Wallahu a'lamu bis-shawab.

(Abu Fahmi/Hidayatullah)
]]>