Oase Qalbuhttp://www.oaseqalbu.net/rss.phpMenggapai mutiara di dasar hati, menuju jiwa yang suci.Sun, 07 Mar 2010 17:13:50 GMTen-usSyaikh Muhammad bin Sirinhttp://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=56http://www.oaseqalbu.net/?p=56Wed, 28 Apr 2010 16:49:38 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

Sabili No.26 Th.IX

Sirin adalah salah seorang hamba sahaya dari sahabat Anas bin Malik ra. Ketika ia dimerdekakan, ia langsung mengutarakan niatnya untuk menikah. Sedangkan wanita yang ingin dinikahinya adalah Shofiyah, seorang hamba sahaya Abu Bakar ra. Shofiyah adalah seorang hamba sahaya yang sangat disayangi oleh keluarga Abu Bakar. Ketika Sirin melamar Shofiyah, Abu Bakar meneliti dirinya dengan penuh seksama. Bukan itu saja, bahkan Anas bin Malik sempat dimintai pendapatnya oleh Abu Bakar tentang Sirin ini. Anas meyakinkan Abu Bakar, seraya berkata, "Percayalah, Sirin adalah orang baik yang memiliki akhlak mulia. Saya telah mengenalnya sejak lama. Insya Allah dia tidak akan mengecewakan Anda."

Mendengar jaminan tersebut, lamaran Sirin diterima. Kemudian diadakan walimah besar dan istimewa. Dikatakan istimewa, karena pesta pernikahan dihadiri oleh delapan belas orang ahlu Badar dan ummul Mukminin, Siti Aisyah ra. Pada saat resepsi, bertindak selaku pembaca doa adalah sahabat Ubay bin Ka'ab. Sedangkan Aisyah bertugas merias pengantin wanita.

Singkat cerita, dari perkawinan mulia ini, Allah menganugerahi mereka seorang anak bernama Muhammad bin Sirin. Dua puluh tahun kemudian ia menjadi salah seorang ulama besar dari kalangan tabi'in. Memang, sejak kecil ia belajar Islam kepada para sahabat Rasul yang ada di Madinah, di antara mereka adalah Zaid bin Tsabit, Anas bin Malik, Ubay bin Ka'ab, dan sebagainya. Ketika ia berusia 14 tahun, ia berhijrah ke Basrah, pusat peradaban Islam waktu itu. Banyak orang Romawi dan Persia yang baru masuk Islam juga menimba ilmu keagamaan di kota itu. Banyak ulama besar yang tinggal di Basrah, salah satunya adalah Hasan Al-Bashri.

Dalam keseharian, Muhammad bin Sirin membagi waktunya untuk melakukan tiga aktivitas: beribadah, mencari ilmu, dan berdagang. Sebelum Subuh sampai waktu Duha ia berada di masjid al-Basrah. Di sana ia belajar dan mengajar berbagai pengetahuan Islam. Setelah Duha hingga sore hari ia berdagang di pasar. Ketika berdagang ia selalu menghidupkan suasana ibadah dengan senantiasa melakukan dzikir, amar ma'ruf, dan nahi munkar. Malam hari, ia khususkan untuk bermunajat kepada Allah SWT. Tangisannya yang keras ketika berdoa terdengar sampai ke dinding-dinding rumah tetangga.

Dalam menggeluti dunia perdagangan, ia sangat berhati-hati sekali. Ia khawatir kalau-kalau terjebak ke dalam masalah yang haram. Sehingga apa yang dilakukannya seringkali membuat orang lain merasa heran. Suatu ketika, ada seseorang menagih hutang kepadanya sebanyak dua dirham. Sedangkan ia sendiri tidak merasa berhutang. Orang tersebut tetap bersikukuh dengan tuduhannya. Karena ia mempunyai bukti, selembar kertas perjanjian hutang yang tertera di atasnya tanda tangan Muhammad bin Sirin. Dengan penuh paksa, ia meminta Muhammad bin Sirin untuk melakukan sumpah. Ketika ia hendak bersumpah, banyak orang yang merasa heran mengapa ia menuruti kemauan si penuduh itu. Salah seorang rekan Muhammad bin Sirin bertanya, "Syaikh, kenapa Anda mau bersumpah hanya untuk masalah sepele, dua keping dirham, padahal baru saja kemarin anda telah merelakan 30 ribu dirham untuk diinfakkan kepada orang lain." Lantas Muhammad bin Sirin menjawab, "Iya, saya bersumpah karena saya tahu bahwa orang itu memang telah berdusta. Jika saya tidak bersumpah, berarti ia akan memakan barang yang haram."

Di lain waktu ia dipanggil oleh Umar bin Hubairah, Gubernur Irak. Gubernur menyambut kedatangannya dengan meriah. Setelah berbasa-basi sejenak, Hubairah bertanya kepadanya, "Bagaimana pendapat Syaikh tentang kehidupan di negeri ini?"

Dengan penuh keberanian, ia menjawab pertanyaan gubernur, "Kezaliman hampir merata di negeri ini. Saya melihat anda selaku pemimpin kurang perhatian terhadap rakyat kecil." Belum lagi Muhammad bin Sirin selesai berbicara, salah seorang keponakannya yang juga ikut ke istana gubernur mencubit lengan sang syaikh, sebagai isyarat agar Muhammad bin Sirin menghentikan kritikan pedasnya kepada sang gubernur. Dengan tegas ia berkata kepada keponakannya itu, "Diamlah engkau, kalau saya tidak mengkritik gubernur, maka nanti sayalah yang akan ditanya di akhirat. Apa yang saya lakukan merupakan persaksian dan amanah umat. Barangsiapa menyembunyikan amanah ini, niscaya ia berdosa."

Sang gubernur sempat termenung sejenak karena terperangah dengan teguran keras dari salah seorang rakyatnya. Tapi ia segera sadar bahwa ia harus bertanggung jawab untuk mengatasi keadaan yang menyedihkan yang menimpa negerinya.

Setelah beberapa saat berada di istana gubernur, ia segera mohon pamit untuk pulang. Gubernur hendak memberikan uang kepadanya sebesar 40 ribu dirham. Tapi ia malah menolaknya. Keponakannya merasa heran mengapa ia harus menolak pemberian itu. Lagi-lagi ia mengingatkan kepada keponakannya seraya berkata, "Ketahuilah, dia memberi hadiah kepadaku karena dia menyangka aku adalah orang yang baik. Kalau aku baik, maka tidak pantas untuk menerima uang itu. Sedangkan jika aku tidak sebaik yang ia sangka, lebih tidak pantas lagi aku mengambilnya."

Kehidupan Muhammad bin Sirin memang tidak luput dari ujian. Suatu ketika ia membeli minyak sayur dalam jumlah besar untuk kepentingan usaha perdagangannya. Ia membelinya dengan sistem kredit. Ketika salah satu kaleng minyak itu dibuka, di dalamnya didapatkan bangkai tikus yang sudah membusuk. Sejenak ia mulai berpikir, apakah ia harus mengembalikannya atau tidak, sesuai dengan perjanjian yang mengatakan, "Apabila terdapat aib pada barangnya, maka ia berhak mengembalikannya." Tapi, ia mengkhawatirkan tentang sesuatu. Apabila ia mengembalikannya, tentu si pedagang minyak sayur itu akan menjualnya kepada orang lain lagi. Sedangkan tempat pembuatan minyak hanya satu. Sudah barang tentu seluruh minyak telah tercemar oleh bangkai tikus itu. Jika dijual kepada orang lain, maka akan tersebarlah bangkai dan najis itu ke setiap orang. Atas pertimbangan tersebut, maka dibuanglah seluruh minyak itu. Ketika datang penjual minyak itu untuk menagih, ia tidak memiliki uang. Ia segera diadukan kepada qadi (hakim pengadilan). Maka ia pun dipanggil untuk diadili. Setelah itu ia dipenjarakan karena kasus tersebut.

Di dalam penjara, petugas merasa sangat kasihan kepadanya. Karena petugas menilainya sebagai orang shalih. Suara tangis yang mengiringi setiap shalat dan munajatnya selalu terdengar oleh petugas tersebut. Setelah memandang iba kepadanya, penjaga penjara itu berkata kepadanya, "Syaikh, bagaimana kalau saya menolong anda. Saat malam anda boleh pulang ke rumah. Keesokannya anda datang lagi ke sini. Apa anda setuju?" Ia menjawab, "Kalau engkau melakukan demikian, maka engkau telah berlaku khianat. Saya tidak setuju."

Sebelum wafat, Anas sempat berwasiat agar yang memandikan dan menguburkannya adalah Muhammad bin Sirin. Salah seorang kerabat Anas bin Malik memohon kepada petugas penjara agar Muhammad bin Sirin diizinkan menunaikan wasiat gurunya. Petugas mengizinkannya. Tetapi, Muhammad bin Sirin berkata, "Saya dipenjara bukan karena penguasa. Tapi karena pemilik barang. Saya tidak akan keluar sampai pemilik barang mengizinkannya. Setelah pemilik barang mengizinkannya, berangkatlah ia ke tempat Anas bin Malik dibaringkan.

Usai mengurus jenazah Anas bin Malik, ia kembali ke penjara tanpa mampir ke rumahnya barang sejenak pun. Pada usia ke 102 tahun, ia wafat. Duka cita meliputi seluruh penduduk Basrah. Karena telah kehilangan seorang ulama besar yang mempunyai kharisma yang tinggi. ]]>
Menegakkan Keadilanhttp://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=112http://www.oaseqalbu.net/?p=112Mon, 26 Apr 2010 04:21:11 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

Sumber : Milist Sabili

Oleh : Atik Fikri Ilyas


Suatu waktu Pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab mengumumkan pembagian kain baju dari negara kepada seluruh kaum Muslimin. Pembagian ditetapkan harus adil dan sama rata. Tidak ada bedanya jatah untuk kepala negara, pejabat negara, atau rakyat biasa. Pembagian baju dinyatakan selesai.

Seluruh warga mendapatkan bagiannya sama rata, tak terkecuali Umar bin Khathab. Namun, sang kepala negara tampak memakai baju yang besar karena badannya besar. Dan, orang-orang mengetahuinya karena pembagian dilaksanakan secara terang-terangan. Ketika Umar berkhutbah memberi semangat kepada kaum Muslimin untuk berjihad dan menjelaskan keutamaannya dengan mengatakan 'Dengarlah dan taatilah perkataanku ini ...' tak ada suara gemuruh mendukung khutbahnya.

Malah secara bergantian terdengar suara cukup nyaring, 'Tidak ada perhatian dan tidak pula ketaatan. Tidak ada tentara yang maju dengan senjata-senjatanya di medan pertempuran!' Umar terheran-heran mendapati suasana yang berbeda dari biasanya itu. Lalu ia bertanya, 'Mengapa sikap kalian berubah?'

Kemudian seseorang berkata dengan nada tinggi, 'Engkau mengambil kain sebagaimana yang kami ambil, tapi bagaimana kain itu pas bagimu sedangkan engkau laki-laki berbadan tinggi besar? Pasti ada sesuatu yang engkau khususkan untuk dirimu sendiri!' Mendengar pernyataan itu, Umar lalu memanggil putranya, Abdullah bin Umar.

Putranya itu diminta menjadi saksi dan mengumumkan kepada khalayak apa yang sebenarnya terjadi. Abdullah bin Umar pun bersaksi bahwa ia memberikan bagiannya kepada ayahnya sehingga ayahnya dapat memakai pakaian yang menutup auratnya, sesuai dengan postur tubuhnya yang tinggi bersar. Orang yang berbicara lantang tadi pun duduk dan berkata, 'Sekarang kami mendengar dan kami taat.' Sikap ini kemudian diikuti oleh segenap hadirin.

Subhanallah, betapa indah hubungan antara kepala negara dan rakyatnya. Kepala negara merasa tidak harus dilebihkan dari rakyatnya dan bebas ditegur, direformasi oleh warganya. Dalam artian, kepala negara ingin dimiliki dan berbuat untuk rakyat. Begitu pula, sistem pemerintahannya memandang semua warga sama dalam hak dan kewajiban.

Itulah seharusnya sikap seorang kepala negara. Ia tidak takut memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingannya sendiri. Begitu pula keluarganya yang tidak menggunakan posisi itu untuk memperkaya diri.

Mungkin kehidupan bernegara seperti di atas sulit didapatkan saat ini, apalagi di negara kita, di mana korupsi, kolusi, dan nepotisme sudah membudaya di setiap lini pemerintahan. Namun, semua itu bukannya mustahil diubah atau direformasi. Segalanya tergantung pada keseriusan dan kegigihan kita bersama. Masalahnya kita mau atau tidak.]]>
Wara'nya seorang ibuhttp://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=95http://www.oaseqalbu.net/?p=95Sun, 25 Apr 2010 17:10:23 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

Sabili No.26 Th.IX

Seorang ibu datang kepada Imam Ahmad bin Hambal untuk meminta fatwa mengenai pengalaman yang baru saja dialaminya. Dengan wajah bimbang, ia bertanya,

"Wahai pelita umat Islam, sesungguhnya saya ini perempuan tak punya. Saking melaratnya, sampai lampu untuk menerangi rumah pun kami tak punya. Karena pada siang hari saya harus mengurus pekerjaan rumah, maka saya mencari makan untuk kami sekeluarga pada malam hari.

Yang dapat saya lakukan untuk menopang kami sekeluarga adalah dengan merajut benang. Rajutan benang itu yang akan saya jual ke pasar. Untuk melakukan pekerjaan itu, biasanya saya menunggu bulan purnama, karena cahayanya cukup untuk menerangi kegiatan merajut benang," ungkapnya kepada Imam Ahmad bin Hambal.

"Akan tetapi suatu ketika, lewatlah serombongan kafilah di depan rumah saya pada malam buta dengan membawa lampu yang sangat banyak. Maka, tidak saya sia-siakan kesempatan itu. Selagi mereka berdiri di tepi jalan pada saat lewatnya iring-iringan mereka, kesempatan itu saya gunakan untuk memintal beberapa lembar kapas," lanjut perempuan itu tertunduk.

"Adapun yang saya tanyakan adalah: apakah uang hasil penjualan benang yang saya pintal dalam cahaya lampu milik iring-iringan kafilah itu halal bagi saya?"

Dengan seksama Imam Ahmad bin Hambal mendengarkan perkataan Sang Ibu tadi. Setelah sebuah pertanyaan dilontarkan si Ibu muslimah itu, dalam kekaguman yang tidak dapat disembunyikan, Imam Ahmad balik bertanya, "Siapakah Anda, yang menaruh perhatian terhadap perkara agama sedemikian besarnya di zaman ini, pada saat masyarakat Islam telah dikuasai oleh kelalaian dan kekikiran terhadap harta?"

"Saya adalah saudara perempuan Basyar Al Hafi Rahimahullah," jawab si ibu, masih dengan kerendahan hatinya.

Mendengar jawaban itu, spontan Imam Ahmad menangis tersedu-sedu. Itu tak lain karena yang baru saja disebut oleh si ibu tadi adalah nama seorang gubernur yang saleh dan mutashawwir yang lurus hati. Beberapa saat kemudian Imam Ahmad terdiam dan belum dapat menjawab pertanyaan perempuan di hadapannya itu. Ia sibuk berdoa memohonkan rahmat atas gubernur yang shalih dan terus memujinya.

Beberapa saat kemudian, barulah beliau berkata, "Sesungguhnya kain penutup wajah yang anda kenakan adalah lebih baik daripada sorban-sorban yang kami pakai. Sesungguhnya kami ini tak patut jika dibandingkan dengan orang-orang tua yang telah mendahului kita, ya Sayyidati. Sedangkan anda, ya Sayyidati, perempuan yang demikian luhur takwanya dan rasa takutnya kepada Allah SWT. Tentang pertanyaan yang anda ajukan, sebenarnya, tanpa ijin rombongan kafilah itu, tidak halallah bagi anda uang hasil penjualan benang tersebut." ]]>
Karya-Karya Terpuji dari Balik Jeruji (3/3)http://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=452http://www.oaseqalbu.net/?p=452Mon, 05 Apr 2010 17:21:49 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

AM Fatwa

Saya dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan terlibat peristiwa Tanjung Priok tahun 1984. Saya menjadi terdakwa pidana politik (subversif), karena kegiatan yang saya lakukan berhubungan dengan kebebasan beragama. Saya didakwa 18 tahun penjara.

Saya coba merenungkan dosa apa yang telah saya perbuat? Saya telusuri masalahnya kembali dan menemukan jawabannya. Dengan memperhatikan seluruh proses pengadilan mulai dari penyusunan berita acara (BAP) sampai jatuhnya vonis hakim, jelas bahwa tuduhan makar terhadap saya bersumber karena saya tidak mau menutup mulut melihat penyimpangan yang terjadi di depan mata.

Memang harus dijelaskan bahwa saya dengan sadar ikut bicara mengenai penyimpangan itu. Bahwa itikad baik saya kemudian dituduh sebagai subversif, adalah risiko yang harus saya pikul. Sementara penguasa tampaknya memang tak berkenan menerima pendapat yang lain. Atas hal ini saya bertanggung jawab penuh dan siap menerima risikonya.

Namun saya bersyukur karena hati saya dibesarkan oleh kata-kata Sir Oliver Lodge, seorang negarawan Inggris yang sesuai benar dengan ajaran-ajaran agama: No sacrifice is wated, tidak ada penderitaan sia-sia.

Meskipun mereka yang begitu dalam perasan dendamnya berhasil memasukkan saya ke penjara, tetapi Alhamdulillah saya berhasil bangkit dengan kepercayaan diri sendiri, bahwa saya tidak melakukan kejahatan seperti yang dituduhkan oleh jaksa penuntut umum.
Saya berdoa jangan sampai kehilangan kemampuan berfikir ketika berada di dalam penjara. Ya, berfikir dengan berorientasi ke masa depan.

Di sela-sela menjalani kehidupan di penjara saya masih menyempatkan menulis surat kepada sahabat. Saya banyak terilhami oleh kebiasaan Bung Karno dan Bung Hatta di masa pemenjaraanya. Kedua tokoh itu gemar sekali surat menyurat dengan tokoh-tokoh tertentu.

Demikian halnya dengan saya. Sejak dari Inrehab Cimanggis, Rutan Salemba, LP Cipinang, LP Cirebon, LP Sukamiskin, dan LP Bogor, banyak sekali surat-surat yang saya tulis ke beberapa tokoh.

Saat dipindah dari LP Sukamiskin Bandung ke LP Bogor situasi politik mulai berubah. Fenomenanya dapat terbaca dengan pendekatan kepada ummat Islam seperti fasilitas dan jalan mulus untuk mendirikan Bank Muamalat dan terbentuknya ICMI.

Dari LP Bogor saya mengirim telegram dukungan kepada Munas pembentukan ICMI di Malang tahun 1990. Dan, setelah saya dipindahkan ke LP Cipinang saya sudah mengajukan aplikasi menjadi anggota ICMI meskipun masih berada dalam penjara.

Ketika Menteri Munawir Sadjali sedang berihtiar untuk meringankan hukuman saya, dikirimkannya buku karangannya yang bertema Islam dan Ketatanegraan serta sebuah guntingan koran Pelita yang memuat pidatonya di IAIN Yogyakarta. Ia meminta tanggapan dan komentar saya.

Tanggapan itu saya tuangkan dalam dalam bentuk paper kecil berjudul Saya Menghayati dan Mengamalkan Pancasila Justru Saya Seorang Muslim. Judul ini sebenarnya terilhami oleh suatu tulisan Mr. Mohammad Roem di Majalah Panji Masyarakat belasan tahun lalu yang terdapat kalimat seperti itu.

Saya menulis semua surat dan buku itu dalam kondisi tanpa kebebasan dan keterbatasan fasilitas. Karena itu maklum jika mengandung kelemahan. Namun saya berharap didapatkan hikmah dan pelajaran dari buku tersebut. * (Bahrul Ulum, disarikan dari buku "Saya Menghayati dan Mengamalkan Pancasila Justru Saya Seorang Muslim" dan "Demokrasi dan Keyakinan Beragama Diadili"/Hidayatullah)

Abdul Qadir Jaelani
"Empat Jam Sehari Membaca dan Menulis"

Saya menjalani kehidupan di penjara selama 15 tahun, sejak zaman Orde Lama sampai Orde Baru. Penjara Orde Lama (1961) saya rasakan selama 6 bulan karena waktu itu saya sebagai Ketua Wilayah PII Jakarta mengeluarkan surat pernyataan menuntut pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) di seluruh Indonesia.

Saya bersama sekretaris saya waktu itu, Hardi M. Arifin, ditangkap oleh KMKBDR (Komando Militer Kota Besar Djakarta Raya) yang dipimpin oleh Kapten Dahyar dan ditahan di rumah tahanan militer RINDAM Condet Jakarta Timur bersama para tahanan PRRI dan Permesta. Setelah enam bulan saya dibebaskan, tanpa melalui proses pengadilan

Akhir tahun 1963, kembali saya ditangkap. Kali ini oleh BPI (Badan Pusat Intelijen) yang dipimpin Brig. Jend. Pol. Sutarto, sebulan setelah PB PII pada Konferensi Besar PII di Bandung mengeluarkan satu ikrar untuk menentang rezim Soekarno dan PKI sampai tumbang.

Selain bersama beberapa pengurus PII, saya ditahan bersama para ulama. Di antaranya, Buya HAMKA, KH Dalari Oemar, KH Ghazali Sahlan, Kolonel Nasuchi, Abdul Mu'thie, H Zamawi. Kami bersama-sama dikumpulkan di asrama Sekolah Perwira Kepolisian Gunung Puyuh Sukabumi. Di sini setiap tahanan diperiksa nonstop oleh tim yang terdiri dari enam orang perwira polisi, yang setiap 6 jam sekali bertugas dua orang.

Pemeriksaan dilakukan selama dua minggu, disertai penyiksaan di luar batas kemanusiaan, seperti dimasukkan ke dalam bak berisi air, kemudian air dialiri listrik. Ada juga tahanan yang ditelanjangi dan kemaluannya disetrum. Setelah 5 hari 5 malam, saya sudah pingsan karena diperiksa terus seperti itu.

Saya dituduh mengadakan rapat gelap di rumah mantan tokoh Masyumi Tangerang yang dihadiri oleh Buya HAMKA, KH Dalari Oemar, KH Ghazali Sahlan, Kolonel Nasuchi, Abdul Mu'thie, H. Zamawi dan empat orang tokoh Pemuda Rakyat (PR) dan Barisan Tani Indonesia (BTI) yang berencana menggagalkan Pesta Olah Raga Ganefo di Jakarta. Tuduhan ini saya tolak, karena tidak pernah ada rapat semacam itu.

Beberapa hari setelah pemeriksaan, saya bersama tokoh Islam lainnya dipindahkan ke Jakarta. Saya diturunkan di Markas Polisi Brimob Cilincing, Tanjung Priok, setelah yang lain diturunkan satu persatu di tempat yang berbeda.

Di tempat itu saya dimasukkan ke ruang sel tahanan yang gelap tanpa lampu, kotor, penuh debu dan sarang laba-laba. Untuk buang air kecil hanya disediakan sebuah kaleng.

Satu-satunya buku yang dibaca hanya Al-Qur`an dan makanan yang ada cuma nasi campur jagung. Keadaan ini saya jalani selama 4 bulan. Selama itu saya belum boleh dijenguk keluarga.

Setelah genap setahun, saya dipindahkan ke tahanan Markas Besar Kepolisian di Kebayoran Baru Jakarta. Di sini saya bertemu dengan para tahanan PRRI, PERMESTA, tokoh Masyumi dan GPII, seperti Mawardi Noer, KH. Hamidullah, dan Djanamar Ajam.

Di tempat inilah saya baru bisa berdiskusi dan belajar, baik masalah-masalah politik, militer, maupun Islam. Akhir November 1965, saya dibebaskan setelah kegagalan kudeta yang dilakukan oleh PKI.

Setelah itu beberapa kali lagi saya diperiksa dan ditahan terkait dengan kegiatan dakwah dan perjuangan saya menegakkan Islam. Pada masa Orde Baru saya beberapa kali ditangkap, disiksa, dan diperiksa.

Yang terakhir, tanggal 16 Desember 1985, saya divonis penjara 18 tahun, karena menurut Berita Acara Pemeriksaan (BAP), ceramah, tulisan, dan pandangan saya tentang ideologi negara (Pancasila), politik, ekonomi dan kebejatan moral bangsa.

Selama menjadi narapidana politik (Napol) inilah saya banyak menulis. Secara ketat saya mencoba mengatur jadwal harian kegiatan saya. Karena menurut saya, jika tidak demikian maka saya tidak akan mendapatkan manfaat dari kehidupan penjara berpuluh tahun di LP Cipinang tersebut.

Untuk kepentingan membaca dan menulis, saya diizinkan memasukkan buku-buku. Tak kurang 500 judul buku tersusun di perpustakaan saya. Buku-buku ini datang silih berganti, tergantung topik yang saya tulis. Setiap harinya dari jam 08.00 sampai 12.00 saya khususkan waktu untuk membaca dan menulis. Dan, puku 16.00 sampai 18.00 untuk tadarusan Al-Qur`an.

Dengan jadwal kegiatan semacam ini, saya dapat menulis buku sebanyak 5000 halaman dalam bentuk ketikan skripsi, sebulan tiga kali tamat Al-Qur`an, setiap hari shalat malam, dan puasa Senin-Kamis. Kegiatan-kegiatan ini masih saya teruskan setelah keluar dari penjara (Agustus 1993, lepas bersyarat).

(Roni Pradana, disarikan dari buku "Anak Rakyat Jelata Mencoba Berjuang Menegakkan Islam" dan wawancara/Hidayatullah).]]>
Rakyat Kritis dan Penguasa Rendah Hatihttp://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=441http://www.oaseqalbu.net/?p=441Thu, 25 Mar 2010 18:27:18 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

Abu Ismail Al-Uzdiy mengisahkan dalam kitab Futuhusy Syaam tentang seorang sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bernama Khalid bin Said, yang hendak memenuhi panggilan jihad di zaman Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Setelah menyiapkan baju perang, senjata dan perbekalan lainnya, ia menyempatkan diri menemui sang Khalifah. Ia duduk di hadapan Khalifah seraya bertahmid dan bershalawat. Kemudian ia berkata, "Wahai Abu Bakar, sesungguhnya Allah telah memuliakan kami dan engkau dengan agama ini. Maka orang yang paling wajib menegakkan sunnah dan menghapuskan bidah serta adil dalam berperilaku adalah pemimpin yang mengurusi seluruh perkara ummat."

Kemudian ia melanjutkan nasehatnya, "Setiap orang yang memeluk agama ini memiliki hak untuk diperlakukan dengan ihsan (adil) karena keadilan penguasa lebih luas manfaatnya. Maka takutlah engkau wahai Abu Bakar atas beban orang-orang yang kau pimpin. Berilah kasih sayang kepada para janda dan anak-anak yatim dan tolonglah orang lemah yang teraniaya. Hendaknya tiada seorang pun dari orang Islam yang kamu senangi, yang mendapatkan porsi kebenaran lebih banyak dari pada orang yang kau benci. Dan janganlah engkau marah selama kau mampu untuk menahannya, karena kemarahan akan menyeretmu dalam kezhaliman.

Dan janganlah engkau mendengki sesama Muslim walaupun engkau mampu melakukannya, karena kedengkianmu terhadap Muslim yang lain akan menjadikannya sebagai musuh bagimu. Jika dia mengetahui hal itu ia pun akan memusuhimu. Bila pemimpin memusuhi rakyatnya dan rakyat memusuhi pemimpinnya akan mengakibatkan kehancuran semuanya. Bersikap lembutlah kepada orang yang berbuat baik. Tegaslah kepada orang yang peragu dan janganlah engkau malu untuk bertindak (dalam kebenaran) karena ejekan orang lain."

Setelah menyampaikan nasehat itu Khalid bin Said berkata, "Berikan tanganmu kepadaku karena aku tidak tahu apakah kita masih bisa berjumpa lagi di dunia ini besok. Bila Allah menentukan kita masih hidup maka kita memohon ampunan-Nya. Tapi bila perpisahan ini untuk selamanya, maka kita telah mengenal Allah dan mengenal wajah Rasul-Nya SAW di surga." Abu Bakar pun kemudian memegang tangan Khalid untuk berbaiat. Setelah itu Khalid menangis. Begitu pula semua yang hadir dalam majelis mereka.

Kisah ini menggambarkan betapa pedulinya seorang ulama dari kalangan rakyat biasa untuk melaksanakan jihad fi sabilillah serta amar maruf nahi munkar terhadap pemimpinnya. Padahal saat itu yang menjadi pemimpin adalah seorang khalifah yang terkenal paling jujur dan termasuk dalam sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Dari riwayat ini kita dapat menarik beberapa pelajaran berharga.

1. Ulama merupakan pengontrol jalannya pemerintahan yang dikendalikan penguasa

Seperti yang dicontohkan Khalid bin Said, sebagai rakyat setiap Muslim juga punya kewajiban sebagai dai yang selalu memberikan peringatan kepada pemimpin. Dengan menjalankan peran itu, setiap Muslim, terutama para dai dan aktivis, akan melengkapi sendi-sendi stabilitas dunia yakni: keberdayaan ulama (dengan ilmunya); keadilan para penguasa; kedermawanan orang-orang kaya dan doa para fuqara. Bila salah satu sendi tak berfungsi sebagaimana semestinya, maka akan terjadi instabilitas dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Kata ‘ulama merupakan bentuk jama (plural) dari kata ‘alim yang secara etimologis artinya orang yang memiliki ilmu, yang dengan ilmunya itu ia menjadi takut hanya kepada Allah (Faathir: 28) Pengertian ulama tidak terbatas pada orang-orang yang memiliki kafaah syariyah (kompetensi di bidang syariah) saja tapi mencakup semua para ahli di bidang keilmuan apapun yang bermanfaat, asalkan ilmu yang dikuasainya membawa dirinya menjadi orang yang memiliki rasa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Inilah yang mendorong mereka melakukan amar maruf dan nahi munkar. Para kader dakwah juga merupakan ulama yang harus berperan sebagai waratsatul ambiya (pewaris para Nabi) yang selalu menegakkan tugas suci ini.

2. Manfaat keadilan yang diterapkan oleh penguasa sangat luas.

Keadilan adalah salah satu inti ajaran Islam yang memiliki kedudukan amat penting. Ini karena sejumlah sebab berikut ini:

Keadilan merupakan jiwa suatu ummat, rahasia kesejahteraannya dan penyebab perkembangan serta kemajuannya.

Keadilan adalah sasaran diutusnya para para rasul di dunia ini. (Al-Hadid: 25). Keadilan merupakan salah satu sifat Allah. Dia memerintahkan agar semua manusia menegakkan keadilan dalam semua aspek kehidupan. (An-Nahl: 90, An-Nisa: 58). Ummat manusia diharuskan menegakkan keadilan (Huud: 85).

Keadilan merupakan salah satu tugas Rasulullah SAW yang harus ditegakkan. (Al-Baqarah 143).

Keadilan adalah sendi untuk menegakkan kebenaran dan untuk menciptakan ketenangan ummat manusia.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa berbuat adil satu jam bagi penguasa lebih baik dari beribadah enam puluh tahun. Dengan berlaku adil, seorang penguasa akan mengayomi semua rakyat, terutama yang lemah dan tertindas, dan akan membatasi kecongkakan rakyat yang merasa kuat. Pantaslah kalau Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa ada tujuh golongan yang kelak akan dinaungi Allah pada hari kiamat yang tiada naungan selain naungan-Nya, salah satunya yaitu penguasa yang adil.

3. Budaya saling menasehati adalah kewajiban setiap umat Islam.

Ada beberapa sebab yang menuntut setiap Muslim, sebagai rakyat sekaligus dai, untuk melakukan tawashau bil haqqi (saling menasehati dalam kebenaran) dan tawashu bis shabri (saling menasehati dalam kesabaran). Antara lain:

a. Kebaikan ummat Islam (khairiyyatu haadzihil ummah) terletak pada pelaksanaan amar maruf dan nahi munkar. Bila tugas ini tidak dilaksanakan maka akan hilanglah ciri kebaikan umat Islam ini. (Ali Imran: 110)

b. Para dai adalah tumpuan utama masyarakat yang akan menstabilkan kehidupan. Ciri utama stabilisator adalah senantiasa melakukan islah (perbaikan). Seorang kader tidak cukup hanya menjadi seorang yang shalih (orang yang baik) saja tapi harus menjadi seorang mushlih (orang yang melakukan perbaikan). Orang-orang yang shalih tidak cukup untuk menjadi penyelamat ummat dari kehancuran . Allah SWT menegaskan dalam A-Quran: "Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zhalim sedang penduduknya orang-orang yang melakukan ishlah." (Huud: 117).

c. Di antara ciri manusia yang tidak akan merugi adalah senantiasa saling menasihati dengan kebenaran dan saling menasihati dengan kesabaran (Al-Ashr: 1-3).

d. Di antara hak seorang Muslim dengan Muslim lainnya adalah bila dimintai nasihat oleh saudaranya maka ia harus memberinya.

e. Agama Islam pada intinya adalah nasihat.

Para salafus shalih telah memberikan contoh luar biasa dalam hal saling menasihati. Salah satunya Umar bin Khatthab. Suatu ketika sejumlah sahabat Rasululah tengah mengelilinginya. Tiba-tiba ada seseorang yang berkata, "Ittaqillaha ya Umar (bertakwalah kepada Allah wahai Umar)." Para sahabat yang mengenal Umar dengan kedudukannya sebagai orang manusia yang dijamin masuk surga, marah kepada orang itu. Namun Umar mencegah kemarahan tersebut seraya berkata, "Biarkanlah dia berkata demikian. Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada orang yang tidak mau mengatakan (perkataan itu) dan tidak pula ada kebaikan pada orang yang tidak mau mendengarkannya." Wallahu alamu bis-shawab.

(Abu Fahmi/Hidayatullah)
]]>
Rakyat Kritis dan Penguasa Rendah Hatihttp://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=782http://www.oaseqalbu.net/?p=782Wed, 24 Mar 2010 06:14:26 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

Abu Ismail Al-Uzdiy mengisahkan dalam kitab Futuhusy Syaam tentang seorang sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bernama Khalid bin Said, yang hendak memenuhi panggilan jihad di zaman Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Setelah menyiapkan baju perang, senjata dan perbekalan lainnya, ia menyempatkan diri menemui sang Khalifah. Ia duduk di hadapan Khalifah seraya bertahmid dan bershalawat. Kemudian ia berkata, "Wahai Abu Bakar, sesungguhnya Allah telah memuliakan kami dan engkau dengan agama ini. Maka orang yang paling wajib menegakkan sunnah dan menghapuskan bidah serta adil dalam berperilaku adalah pemimpin yang mengurusi seluruh perkara ummat."

Kemudian ia melanjutkan nasehatnya, "Setiap orang yang memeluk agama ini memiliki hak untuk diperlakukan dengan ihsan (adil) karena keadilan penguasa lebih luas manfaatnya. Maka takutlah engkau wahai Abu Bakar atas beban orang-orang yang kau pimpin. Berilah kasih sayang kepada para janda dan anak-anak yatim dan tolonglah orang lemah yang teraniaya. Hendaknya tiada seorang pun dari orang Islam yang kamu senangi, yang mendapatkan porsi kebenaran lebih banyak dari pada orang yang kau benci. Dan janganlah engkau marah selama kau mampu untuk menahannya, karena kemarahan akan menyeretmu dalam kezhaliman.

Dan janganlah engkau mendengki sesama Muslim walaupun engkau mampu melakukannya, karena kedengkianmu terhadap Muslim yang lain akan menjadikannya sebagai musuh bagimu. Jika dia mengetahui hal itu ia pun akan memusuhimu. Bila pemimpin memusuhi rakyatnya dan rakyat memusuhi pemimpinnya akan mengakibatkan kehancuran semuanya. Bersikap lembutlah kepada orang yang berbuat baik. Tegaslah kepada orang yang peragu dan janganlah engkau malu untuk bertindak (dalam kebenaran) karena ejekan orang lain."

Setelah menyampaikan nasehat itu Khalid bin Said berkata, "Berikan tanganmu kepadaku karena aku tidak tahu apakah kita masih bisa berjumpa lagi di dunia ini besok. Bila Allah menentukan kita masih hidup maka kita memohon ampunan-Nya. Tapi bila perpisahan ini untuk selamanya, maka kita telah mengenal Allah dan mengenal wajah Rasul-Nya SAW di surga." Abu Bakar pun kemudian memegang tangan Khalid untuk berbaiat. Setelah itu Khalid menangis. Begitu pula semua yang hadir dalam majelis mereka.

Kisah ini menggambarkan betapa pedulinya seorang ulama dari kalangan rakyat biasa untuk melaksanakan jihad fi sabilillah serta amar maruf nahi munkar terhadap pemimpinnya. Padahal saat itu yang menjadi pemimpin adalah seorang khalifah yang terkenal paling jujur dan termasuk dalam sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Dari riwayat ini kita dapat menarik beberapa pelajaran berharga.

1. Ulama merupakan pengontrol jalannya pemerintahan yang dikendalikan penguasa

Seperti yang dicontohkan Khalid bin Said, sebagai rakyat setiap Muslim juga punya kewajiban sebagai dai yang selalu memberikan peringatan kepada pemimpin. Dengan menjalankan peran itu, setiap Muslim, terutama para dai dan aktivis, akan melengkapi sendi-sendi stabilitas dunia yakni: keberdayaan ulama (dengan ilmunya); keadilan para penguasa; kedermawanan orang-orang kaya dan doa para fuqara. Bila salah satu sendi tak berfungsi sebagaimana semestinya, maka akan terjadi instabilitas dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Kata ‘ulama merupakan bentuk jama (plural) dari kata ‘alim yang secara etimologis artinya orang yang memiliki ilmu, yang dengan ilmunya itu ia menjadi takut hanya kepada Allah (Faathir: 28) Pengertian ulama tidak terbatas pada orang-orang yang memiliki kafaah syariyah (kompetensi di bidang syariah) saja tapi mencakup semua para ahli di bidang keilmuan apapun yang bermanfaat, asalkan ilmu yang dikuasainya membawa dirinya menjadi orang yang memiliki rasa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Inilah yang mendorong mereka melakukan amar maruf dan nahi munkar. Para kader dakwah juga merupakan ulama yang harus berperan sebagai waratsatul ambiya (pewaris para Nabi) yang selalu menegakkan tugas suci ini.

2. Manfaat keadilan yang diterapkan oleh penguasa sangat luas.

Keadilan adalah salah satu inti ajaran Islam yang memiliki kedudukan amat penting. Ini karena sejumlah sebab berikut ini:

Keadilan merupakan jiwa suatu ummat, rahasia kesejahteraannya dan penyebab perkembangan serta kemajuannya.

Keadilan adalah sasaran diutusnya para para rasul di dunia ini. (Al-Hadid: 25). Keadilan merupakan salah satu sifat Allah. Dia memerintahkan agar semua manusia menegakkan keadilan dalam semua aspek kehidupan. (An-Nahl: 90, An-Nisa: 58). Ummat manusia diharuskan menegakkan keadilan (Huud: 85).

Keadilan merupakan salah satu tugas Rasulullah SAW yang harus ditegakkan. (Al-Baqarah 143).

Keadilan adalah sendi untuk menegakkan kebenaran dan untuk menciptakan ketenangan ummat manusia.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa berbuat adil satu jam bagi penguasa lebih baik dari beribadah enam puluh tahun. Dengan berlaku adil, seorang penguasa akan mengayomi semua rakyat, terutama yang lemah dan tertindas, dan akan membatasi kecongkakan rakyat yang merasa kuat. Pantaslah kalau Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa ada tujuh golongan yang kelak akan dinaungi Allah pada hari kiamat yang tiada naungan selain naungan-Nya, salah satunya yaitu penguasa yang adil.

3. Budaya saling menasehati adalah kewajiban setiap umat Islam.

Ada beberapa sebab yang menuntut setiap Muslim, sebagai rakyat sekaligus dai, untuk melakukan tawashau bil haqqi (saling menasehati dalam kebenaran) dan tawashu bis shabri (saling menasehati dalam kesabaran). Antara lain:

a. Kebaikan ummat Islam (khairiyyatu haadzihil ummah) terletak pada pelaksanaan amar maruf dan nahi munkar. Bila tugas ini tidak dilaksanakan maka akan hilanglah ciri kebaikan umat Islam ini. (Ali Imran: 110)

b. Para dai adalah tumpuan utama masyarakat yang akan menstabilkan kehidupan. Ciri utama stabilisator adalah senantiasa melakukan islah (perbaikan). Seorang kader tidak cukup hanya menjadi seorang yang shalih (orang yang baik) saja tapi harus menjadi seorang mushlih (orang yang melakukan perbaikan). Orang-orang yang shalih tidak cukup untuk menjadi penyelamat ummat dari kehancuran . Allah SWT menegaskan dalam A-Quran: "Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zhalim sedang penduduknya orang-orang yang melakukan ishlah." (Huud: 117).

c. Di antara ciri manusia yang tidak akan merugi adalah senantiasa saling menasihati dengan kebenaran dan saling menasihati dengan kesabaran (Al-Ashr: 1-3).

d. Di antara hak seorang Muslim dengan Muslim lainnya adalah bila dimintai nasihat oleh saudaranya maka ia harus memberinya.

e. Agama Islam pada intinya adalah nasihat.

Para salafus shalih telah memberikan contoh luar biasa dalam hal saling menasihati. Salah satunya Umar bin Khatthab. Suatu ketika sejumlah sahabat Rasululah tengah mengelilinginya. Tiba-tiba ada seseorang yang berkata, "Ittaqillaha ya Umar (bertakwalah kepada Allah wahai Umar)." Para sahabat yang mengenal Umar dengan kedudukannya sebagai orang manusia yang dijamin masuk surga, marah kepada orang itu. Namun Umar mencegah kemarahan tersebut seraya berkata, "Biarkanlah dia berkata demikian. Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada orang yang tidak mau mengatakan (perkataan itu) dan tidak pula ada kebaikan pada orang yang tidak mau mendengarkannya." Wallahu alamu bis-shawab.

(Abu Fahmi/Hidayatullah)
]]>
Penggundulan Sang Baduihttp://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=542http://www.oaseqalbu.net/?p=542Tue, 16 Mar 2010 19:25:48 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

Kota Bashrah yang ramai dengan penduduknya yang beragam, masa itu dipimpin oleh Walikota Abu Musa al Asyari. Ia mempunyai prajurit yang gagah berani, salah satunya yang cukup luar biasa sebutlah si fulan dari suku Badui, yang terkenal polos, terbuka, dan impulsive. Fulan adalah prajurit yang gagah berani, di senangi dan disegani kawan, apalagi di tengah medan pertempuran.

Suatu hari, usai suatu pertempuran, tidak seperti biasanya, fulan langsung menghadap Abu Musa. Entah karena ada dorongan apa, ia datang untuk meminta ghanimah hasil peperangan yang menjadi hak miliknya. Dengan tepat, seperti yang diingatnya, fulan menyebutkan jumlah ghanimah haknya. Jumlah yang diminta nya cukup besar dan membuat kaget Abu Musa.

Setengah percaya dan tidak Abu Musa merenung. Bagaimana membuktikan kebenaran jumlah itu? Dan, bagaimana kalau seluruh prajurit terprovokasi menuntut hal yang sama? Akhirnya, Abu Musa memanggil si Badui dan menyerahkan hanya separo dari yang diminta. Namun, di luar dugaan Abu Musa, si fulan marah. Dengan nada kasar, ia mendesak Abu Musa agar memberikan glianimah haknya sesuai dengan jumlah yang disebutkan.

Maka ketegangan pun tak terhindarkan. Suasana menjadi panas. Abu Musa merasa keputusannya sudah tepat, sementara si Badui merasa yakin dengan hitungannya. Dengan marah ia menolak keputusan sang walikota. Sebagai walikota yang bertanggung jawab atas ketenteraman kota, Abu Musa khawatir kalau penentangan si Badui akan dicontoh prajurit lain, sehingga sulit diatur. Kalau itu terjadi, celakalah kota Bashrah. Keamanan kota menjadi lemah. Bila jadi, yang akan susah adalah kaum muslimin juga. Hal ini tak boleh terjadi, menurut Abu Musa.

Maka Abu Musa mengambil keputusan untuk menghukum si fulan karena penentangannya atas ketetapan walikota dan sebagai pelajaran bagi prajurit lain agar tidak menentang pemimpin mereka. Hukumannya adalah 20 kali cambuk dan cukur gundul.

Hari eksekusi pun tiba. Dengan marah si Badui menerima hukuman itu. la merasa ini adalah ketidakadilan. Mengapa orang yang menuntut haknya malah harus menerima hukuman 20 kali cambuk dan kepala diplontos? Padahal Islam mengajarkan keadilan dan bukan penghinaan. Islam mengajarkan pemenuhan hak bukan keangkuhan.

Si Badui sungguh merasa terhina. Apalagi banyak prajurit yang mentertawai ketika penggundulan kepala itu dilakukan. Mereka sepertinya memandang lucu kepada dirinya. Panas membara di hati si Badui. Dengan wajah merah padam dipunguti rambutnya di tengah suara tawa prajurit yang lain. Dia bertekad akan melaporkan ketidakadilan ini kepada Amirul Mukminin, Umar ibnul Khaththab.

Maka pergilah ia menemui Amirul Mukminin ke Madinah dan langsung masuk ke majelis Umar ibnul Khaththab. Dengan marah dia masuk sambil melempar potongan rambut ke hadapan Umar. Tampak kemarahan yang sangat dari wajah dan gerakan si Badui. Hadirin majelis tampak kaget. "Betapa beraninya orang ini. Seorang rakyat biasa berbuat tidak sopan di hadapan Umar dengan melemparkan potongan rambut"' kata hati mereka. Mereka cemas dengan apa yang akan terjadi karena mereka mengetahui ketegasan Umar ibnul Khaththab.

Tapi nampaknya Umar tetap tersenyum ramah kepada si Badui. Sementara itu, dengan lantang dan marah si Badui berteriak,"kalau aku tidak takut......", dan Umar langsung menyambutnya dengan bij aksana, "Ya benar, kalau. kau tidak takut akan api neraka, lalu kenapa?" Akhirnya berceritalah si Badui tentang apa yang dialaminya di Bashrah.

Umar mendengarkan dengan saksama. Setelah itu, ia menulis surat kepada Abu Musa yang intinya, "Seorang rakyatmu telah datang menghadapku di Madinah. Bersiaplah menerima pembalasan kalau engkau melaksanakannya di depan umum, begitu pula kalau kau melaksanakannya secara tersembunyi."

Membaca surat Umar, Abu Musa terkesiap dan menyadari kesalahannya, yakni tidak memenuhi hak si Badui dan malah menghukumnya. Kesadaran dan kesalehan Abu Musa mendorongnya untuk segera melaksanakan perintah Umar. Sama sekali tidak ada keinginan untuk menunda, apalagi menyembunyikannya. "Biarlah hancur kewibawaanku di hadapan rakyat, yang penting aku telah menebus kesalahanku, dan memenuhi hak orang lain. Apa artinya rasa malu di dunia, ketimbang pertanyaan Allah swt. kelak di akhirat," Abu Musa membatin.

Berbeda dengan Abu Musa, sejak kepulangan dari Madinah, si Badui tampak ceria. Kegusarannya hilang tanpa bekas karena telah diterima dengan baik oleh Amirul Mukminin dan sekarang ia dapat membalas perbuatan walikota serta membersihkan kehormatannya.

Keceriaan dan kebijaksanaan Khalifah Umar membuat si Badui kagum. Dalam hatinya muncul perasaan bersalah. "Mengapa saya harus balas dendam, kepada walikota, padahal keputusan walikota itu tentu atas pertimbangan cermat dalam rangka mengatur prajurit serta harta pampasan perang? Bagaimana kalau seluruh prajurit bertindak seperti dirinya, apakah tidak menimbulkan kekacauan? Bagaimana pula kalau seluruh prajurit menentang perintah walikota, apa yang akan terjadi dengan keamanan kaum muslimin Bashrah?" batin si Badui. Tetap terselip dalam hati si Badui bahwa ada unsur kebenaran dalam tindakan sang walikota.

Hari pembalasan pun tiba. Abu Musa tertunduk lesu. Pejabat kota dan rakyat pada umumnya merasa marah dengan si Badui dan iba terhadap Abu Musa. "Bagaimana hal ini bisa terjadi? Seorang walikota yang saleh, terhormat, dan sahabat Rasulullah saw. diperlakukan seperti ini oleh seorang rakyat jelata." keluh mereka. Mereka membujuk agar si Badui memaafkan sang Walikota.
Namun, sebagian rakyat berpendapat, ini adalah hal yang baik. Pembalasan ini menunjukkan keadilan Islam. Siapapun tidak boleh melanggar hak orang lain, meskipun ia seorang walikota. Hak rakyat harus dipenuhi dan keangkuhan harus dihancurkan. Islam mengajarkan, pemimpin adalah pengayom rakyat bukan algojo yang mengeksekusi terhukum.

Aba aba sudah diberikan. Abu Musa duduk terdiam pasrah. Rakyat memejamkan mata. Iba melihat pemimpinnya diperlakukan demikian. Ada yang berteriak histeris agar si Badui membatalkan pembalasannya. Si Badui berjalan perlahan tapi pasti dengan cambuk ditangan menuju sang walikota. Suasana semakin tegang. Pertempuran terjadi di dalam hati si Badui, "Kenapa aku harus membalas dendam, bukankah detik ini kehormatanku sudah pulih? Orang sudah tahu akan kebenaranku, bahkan Amirul Mukminin juga sudah memahami semua ini. Apakah aku harus mencambuk clan menggunduli Abu Musa, yang baik pada semua orang, yang saleh dan sahabat Rasulullah saw.. Bukankahjuga dia menghukumku atas pertimbangan kemaslahatan penduduk kota? Bukan sekadar untuk mengikuti hawa nafsu¬nya. Rambutku juga sebentar lagi akan tumbuh, orang tetap akan hormat kepadaku karena keberanianku menghadap Amirul."

Dipandanginya Abu Musa yang tertunduk lesu. "Detik ini tak ada lagi yang akan menghalangiku untuk membalas sakit hati. Namun, kalau aku memaafkannya, bukankah lebih baik bagiku dan Allah swt. ridha kepadaku?" batinnya kembali. Berbagai perasaan kembali berkecamuk di dalam hati si Badui. Suasana hening. Si Badui menundukkan kepala, berpikir. Akhirnya, dengan mantap si Badui melangkah mendekati Abu Musa dan dihempaskannya cambuk dari tangannya. Dengan haru dia berkata, "Ya Allah, aku maafkan... aku maafkan. " Hatinya lega dan wajahnya pun menjadi cerah.

Maka suasana pun menjadi ramai, masyarakat bertakbir gembira. Ada yang berloncatan dan saling berpelukan, ada yang menangis gembira, dan banyak yang memuji kelembutan hati si Badui. Abu Musa segera memeluk erat si Badui, mengucapkan terima kasih. Air matanya mengalir basah. Air mata ketulusan hati dan rasa terima kasih kepada si Badui yang pernah dianiayanya. Air mata penyesalan dan tobat kepada Allah swt..

Berbuatlah adil meskipun kepada mereka yang lemah. Ruh keadilan itu akan terasa bila orang merasakan keadilan itu dari kita.

[Kisah-Kisah Teladan untuk Keluarga, Dr. Mulyanto]]]>
Penggundulan Sang Baduihttp://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=781http://www.oaseqalbu.net/?p=781Sun, 14 Mar 2010 12:27:38 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

Kota Bashrah yang ramai dengan penduduknya yang beragam, masa itu dipimpin oleh Walikota Abu Musa al Asyari. Ia mempunyai prajurit yang gagah berani, salah satunya yang cukup luar biasa sebutlah si fulan dari suku Badui, yang terkenal polos, terbuka, dan impulsive. Fulan adalah prajurit yang gagah berani, di senangi dan disegani kawan, apalagi di tengah medan pertempuran.

Suatu hari, usai suatu pertempuran, tidak seperti biasanya, fulan langsung menghadap Abu Musa. Entah karena ada dorongan apa, ia datang untuk meminta ghanimah hasil peperangan yang menjadi hak miliknya. Dengan tepat, seperti yang diingatnya, fulan menyebutkan jumlah ghanimah haknya. Jumlah yang diminta nya cukup besar dan membuat kaget Abu Musa.

Setengah percaya dan tidak Abu Musa merenung. Bagaimana membuktikan kebenaran jumlah itu? Dan, bagaimana kalau seluruh prajurit terprovokasi menuntut hal yang sama? Akhirnya, Abu Musa memanggil si Badui dan menyerahkan hanya separo dari yang diminta. Namun, di luar dugaan Abu Musa, si fulan marah. Dengan nada kasar, ia mendesak Abu Musa agar memberikan glianimah haknya sesuai dengan jumlah yang disebutkan.

Maka ketegangan pun tak terhindarkan. Suasana menjadi panas. Abu Musa merasa keputusannya sudah tepat, sementara si Badui merasa yakin dengan hitungannya. Dengan marah ia menolak keputusan sang walikota. Sebagai walikota yang bertanggung jawab atas ketenteraman kota, Abu Musa khawatir kalau penentangan si Badui akan dicontoh prajurit lain, sehingga sulit diatur. Kalau itu terjadi, celakalah kota Bashrah. Keamanan kota menjadi lemah. Bila jadi, yang akan susah adalah kaum muslimin juga. Hal ini tak boleh terjadi, menurut Abu Musa.

Maka Abu Musa mengambil keputusan untuk menghukum si fulan karena penentangannya atas ketetapan walikota dan sebagai pelajaran bagi prajurit lain agar tidak menentang pemimpin mereka. Hukumannya adalah 20 kali cambuk dan cukur gundul.

Hari eksekusi pun tiba. Dengan marah si Badui menerima hukuman itu. la merasa ini adalah ketidakadilan. Mengapa orang yang menuntut haknya malah harus menerima hukuman 20 kali cambuk dan kepala diplontos? Padahal Islam mengajarkan keadilan dan bukan penghinaan. Islam mengajarkan pemenuhan hak bukan keangkuhan.

Si Badui sungguh merasa terhina. Apalagi banyak prajurit yang mentertawai ketika penggundulan kepala itu dilakukan. Mereka sepertinya memandang lucu kepada dirinya. Panas membara di hati si Badui. Dengan wajah merah padam dipunguti rambutnya di tengah suara tawa prajurit yang lain. Dia bertekad akan melaporkan ketidakadilan ini kepada Amirul Mukminin, Umar ibnul Khaththab.

Maka pergilah ia menemui Amirul Mukminin ke Madinah dan langsung masuk ke majelis Umar ibnul Khaththab. Dengan marah dia masuk sambil melempar potongan rambut ke hadapan Umar. Tampak kemarahan yang sangat dari wajah dan gerakan si Badui. Hadirin majelis tampak kaget. "Betapa beraninya orang ini. Seorang rakyat biasa berbuat tidak sopan di hadapan Umar dengan melemparkan potongan rambut"' kata hati mereka. Mereka cemas dengan apa yang akan terjadi karena mereka mengetahui ketegasan Umar ibnul Khaththab.

Tapi nampaknya Umar tetap tersenyum ramah kepada si Badui. Sementara itu, dengan lantang dan marah si Badui berteriak,"kalau aku tidak takut......", dan Umar langsung menyambutnya dengan bij aksana, "Ya benar, kalau. kau tidak takut akan api neraka, lalu kenapa?" Akhirnya berceritalah si Badui tentang apa yang dialaminya di Bashrah.

Umar mendengarkan dengan saksama. Setelah itu, ia menulis surat kepada Abu Musa yang intinya, "Seorang rakyatmu telah datang menghadapku di Madinah. Bersiaplah menerima pembalasan kalau engkau melaksanakannya di depan umum, begitu pula kalau kau melaksanakannya secara tersembunyi."

Membaca surat Umar, Abu Musa terkesiap dan menyadari kesalahannya, yakni tidak memenuhi hak si Badui dan malah menghukumnya. Kesadaran dan kesalehan Abu Musa mendorongnya untuk segera melaksanakan perintah Umar. Sama sekali tidak ada keinginan untuk menunda, apalagi menyembunyikannya. "Biarlah hancur kewibawaanku di hadapan rakyat, yang penting aku telah menebus kesalahanku, dan memenuhi hak orang lain. Apa artinya rasa malu di dunia, ketimbang pertanyaan Allah swt. kelak di akhirat," Abu Musa membatin.

Berbeda dengan Abu Musa, sejak kepulangan dari Madinah, si Badui tampak ceria. Kegusarannya hilang tanpa bekas karena telah diterima dengan baik oleh Amirul Mukminin dan sekarang ia dapat membalas perbuatan walikota serta membersihkan kehormatannya.

Keceriaan dan kebijaksanaan Khalifah Umar membuat si Badui kagum. Dalam hatinya muncul perasaan bersalah. "Mengapa saya harus balas dendam, kepada walikota, padahal keputusan walikota itu tentu atas pertimbangan cermat dalam rangka mengatur prajurit serta harta pampasan perang? Bagaimana kalau seluruh prajurit bertindak seperti dirinya, apakah tidak menimbulkan kekacauan? Bagaimana pula kalau seluruh prajurit menentang perintah walikota, apa yang akan terjadi dengan keamanan kaum muslimin Bashrah?" batin si Badui. Tetap terselip dalam hati si Badui bahwa ada unsur kebenaran dalam tindakan sang walikota.

Hari pembalasan pun tiba. Abu Musa tertunduk lesu. Pejabat kota dan rakyat pada umumnya merasa marah dengan si Badui dan iba terhadap Abu Musa. "Bagaimana hal ini bisa terjadi? Seorang walikota yang saleh, terhormat, dan sahabat Rasulullah saw. diperlakukan seperti ini oleh seorang rakyat jelata." keluh mereka. Mereka membujuk agar si Badui memaafkan sang Walikota.
Namun, sebagian rakyat berpendapat, ini adalah hal yang baik. Pembalasan ini menunjukkan keadilan Islam. Siapapun tidak boleh melanggar hak orang lain, meskipun ia seorang walikota. Hak rakyat harus dipenuhi dan keangkuhan harus dihancurkan. Islam mengajarkan, pemimpin adalah pengayom rakyat bukan algojo yang mengeksekusi terhukum.

Aba aba sudah diberikan. Abu Musa duduk terdiam pasrah. Rakyat memejamkan mata. Iba melihat pemimpinnya diperlakukan demikian. Ada yang berteriak histeris agar si Badui membatalkan pembalasannya. Si Badui berjalan perlahan tapi pasti dengan cambuk ditangan menuju sang walikota. Suasana semakin tegang. Pertempuran terjadi di dalam hati si Badui, "Kenapa aku harus membalas dendam, bukankah detik ini kehormatanku sudah pulih? Orang sudah tahu akan kebenaranku, bahkan Amirul Mukminin juga sudah memahami semua ini. Apakah aku harus mencambuk clan menggunduli Abu Musa, yang baik pada semua orang, yang saleh dan sahabat Rasulullah saw.. Bukankahjuga dia menghukumku atas pertimbangan kemaslahatan penduduk kota? Bukan sekadar untuk mengikuti hawa nafsu¬nya. Rambutku juga sebentar lagi akan tumbuh, orang tetap akan hormat kepadaku karena keberanianku menghadap Amirul."

Dipandanginya Abu Musa yang tertunduk lesu. "Detik ini tak ada lagi yang akan menghalangiku untuk membalas sakit hati. Namun, kalau aku memaafkannya, bukankah lebih baik bagiku dan Allah swt. ridha kepadaku?" batinnya kembali. Berbagai perasaan kembali berkecamuk di dalam hati si Badui. Suasana hening. Si Badui menundukkan kepala, berpikir. Akhirnya, dengan mantap si Badui melangkah mendekati Abu Musa dan dihempaskannya cambuk dari tangannya. Dengan haru dia berkata, "Ya Allah, aku maafkan... aku maafkan. " Hatinya lega dan wajahnya pun menjadi cerah.

Maka suasana pun menjadi ramai, masyarakat bertakbir gembira. Ada yang berloncatan dan saling berpelukan, ada yang menangis gembira, dan banyak yang memuji kelembutan hati si Badui. Abu Musa segera memeluk erat si Badui, mengucapkan terima kasih. Air matanya mengalir basah. Air mata ketulusan hati dan rasa terima kasih kepada si Badui yang pernah dianiayanya. Air mata penyesalan dan tobat kepada Allah swt..

Berbuatlah adil meskipun kepada mereka yang lemah. Ruh keadilan itu akan terasa bila orang merasakan keadilan itu dari kita.

[Kisah-Kisah Teladan untuk Keluarga, Dr. Mulyanto]]]>
Belajar Berakhlakhttp://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=780http://www.oaseqalbu.net/?p=780Thu, 11 Mar 2010 20:57:14 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

Masyarakat kota besar tentu pernah naik bus yang penuh sesak, berhimpit dan berjubel antara penumpang. Laki-laki dan perempuan saling berdempetan. Buat sebagian orang yang tidak memiliki akhlak dan itikad baik, mungkin saat seperti itu dilihatnya sebagai kesempatan melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Ditambah lagi kalau wanita yang diperlakukan dengan tidak layak itu diam saja, maka perlakuan tidak berakhlak itu akan semakin menjadi.

Padahal, sejak kecil kita akrab dengan pesan-pesan moral dan harus berbaik akhlak. Kita tentu ingat pesan guru, bagimana bersikap dan bertingkah laku sebagai seorang pelajar. Di surau-surau selepas maghrib pun para guru mengaji, selalu berpesan tentang pentingnya berakhlak ahsan. Pelajaran akhlak menjadi materi utama. Berlaku jujur, sopan, dan bersikap selalu ramah kepada orang lain jadi pesan yang paling sering disampaikan.

Sebagai agama yang haq, Islam menjadi sumber kekuatan abadi dalam menumbuhkembangkan akhlak. Islam menjadi bahan bakar utama melahirkan ihsan takwa. Orang-orang mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa Islam adalah sumber akhlak. Akhlak yang tumbuh subur menjadikan kita dermawan, berani, adil, dan dapat dipercaya. Akhlak juga akan membimbing kita menjadi arif, jujur, setia, serta memiliki kasih dengan segala sifat yang utama. Akhlak juga yang akan menjauhkan kita dari sifat takut, bakhil, maksiat, menipu, dusta, juga jauh dari semua sifat yang rendah.

Akhlak Islami, inilah yang paling diperlukan bagi kita semua. Lebih dari sekedar standar kebaikan manusia biasa. Akhlah Islamiyah memiliki kekhususan dan menuntut kekhususan pula.

Pertama adalah kebajikan yang mutlak. Akhlak yang mampu menjamin kebajikan sempurna, menyeluruh, dan bersih dari mementingkan diri sendiri atau mengutamakan segolongan manusia terhadap orang lain. Islam memerintahkan seseorang bergairah melaksanakan kebajikan. Islam mencegahnya dari perbuatan yang buruk dan memerangi keburukan. Sifat pemurah yang diasah semata-mata hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT, rindu pahala dari-Nya, mendamba cinta-Nya. Memberi enjadi hobi utama, berkorban merupakan keinginannya dan semua dilakukan secara diam-diam karena hanya ingin diketahui oleh Allah SWT saja.

"Orang dermawan itu dekat kepada Allah, dekat kepada syurga, dekat kepada manusia dan jauh dari neraka. Sedangkan orang kikir iru jauh dari Allah, jauh dari syurga, jauh dari manusia dan dekat kepada neraka. Orang bodoh yang dermawan lebih dicintai Allah daripada ahli ibadah tapi kikir." (HR. Tirmidzi).

Kedua kebaikan yang merata. Kebaikan yang dilakukan untuk seluruh umat manusia di segala zaman dan disegala tempat. Islam menciptakan akhlak yang mulia serta luhur dan sangat sesuai fitrah manusia. Karenanya ia akan mudah diterima oleh hati yang hidup serta akal yang sehat. "Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak akan memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kemampuannya". (QS, Al-Anam: 152)

Begitulah Islam sebagai agama dan sebagai pegangan hidup, memandang persamaan antara hak dan kewajiban, pahala dan siksa. Sampai akhir zaman akhlak Islamiyah ini akan menjadi konsep hidup mulia yang tidak akan tertandingi, menjadi sarana untuk menolong orang-orang teraniaya, member bantuan kepada mereka yang tertindas dan untuk selanjutnya menegakkan keadilan bagi meraka yang lemah.

Ketiga, kewajiban yang dipatuhi. Mematuhi yang wajib dan menaati yang benar adalah cerminan pengabdian pada sesuatu yang telah diatur dengan penuh kesadaran demi kemaslahatan diri, kelompok atau umat. Kekuasaan mutlak Allah SWT, dan kewajiban tak tertawar bagi makhluknya untuk menjalankan pengabdian sebagai cerminan pengharapan cinta-Nya. "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku". (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Kewajiban tersebut ditatati dan desenangi karena merupakan perintah atau larangan dari Allah SWT, sehingga setiap manusia terdidik atas kewajiban dan merasa terikat dengan kebaikan. Dengan cara itu pula, seorang muslim mampu mendekatkan diri pada posisi yang paling dekat dengan penciptanya.

Terakhir adalah pengawasan yang menyeluruh atau muraqabbatullah. Akhlak ciptaan manusia tentu saja tidak sebanding jika diimbang dengan kekuatan akhlak Islamiyah yang memiliki pengaruh sedahsyat dan sebesar apa yang Allah SWT telah tuangkan dalam wahyu-Nya yang tertulis dan terabadikan dalam al-Quran. Seorang muslim akan merasakan suatu pengawasan yang kuat, bersumber dari kekuatan yang Maha. Hati nurani pun menjadi hidup, karena bersandar pada agama dan seluruh tubuh dapat merasakan pancaran kekuatannya. "Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah, apabila segumpal darah itu baik, maka seluruh tubuh pun menjadi baik. Apabila segumpal darah itu rusak, seluruh tubuh pun menjadi rusak, ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati". (HR. Bukhari dan Muslim).

Akhlak Islamiyah sudah saatnya ditinggikan, dengan demikian amalan baik akan mengiringi. Lalu lahirlah seribu orang dermawan, sepuluh ribu orang penegak keadilan, seratus ribu orang jujur dan dapat dipercaya. Lalu mereka semua berjalan beriringan, bergandeng tangan membangun barisan dan memenangkan kalimat Allah dan mewujudkan rahmat untuk semesta alam.

Sabili No. 15 Th. XI.]]>
Selamat jalan 'the champion'http://www.oaseqalbu.net/rss.php?i=38http://www.oaseqalbu.net/?p=38Sun, 07 Mar 2010 17:13:50 GMTWebsite Oase Qalbu | Artikel original | Simpan ke PDF

source: milist DT

Wajah tirus Hani dengan kepala tak berambut sedikit bergerak. Mata cekung, dulu jenaka yang menyimpan banyak keceriaan dan keoptimistisan, kini ia memandangku dan mengerjap dengan layu. Seakan-akan ada yang ingin diungkapkannya. Kuhampiri tubuh yang lemah itu, dan kugenggam tangannya.

"Ada apa, Han..?"

Suara tilawah Al Quran Mama terhenti ketika menyadari ada sesuatu yang diminta Hani.

"Kenapa, sayang..? Ada yang sakit?." Tanya mama dengan suara parau.

Sudah sekian hari, Mama memang banyak menangis untuk Hani. Di tiap-tiap malamnnya, Mama mengucurkan air mata, memohon kepada Allah, untuk mau mendengar "bargaining" di dalam doa-doa Mama. Agar Allah mau mengulur waktu untuk Hani sampai beberapa waktu saja. Mulut Hani bergerak-gerak, kudekatkan telingaku pada wajahnya, agar dapat menangkap apa yang diungkapkannya.

"Asy..ha..du alla..."

Tiba-tiba aku menyadari "waktu itu" sudah dekat. Ku menoleh pada Mama, ia seperti mengerti. Lalu Mama bergegas menuju pintu, memanggil Papa, dan Aria, adik iparku. Dua orang laki-laki, yang akan kehilangan orang yang dicintai itu, segera masuk dan menanti apa yang terjadi kemudian. Kupakaikan kerudung putih pada kepala tanpa rambut yang melemah itu. Kulakukan ini karena pesan terakhir Hani, jika "saatnya" tiba ia tidak mau dalam keadaan "telanjang" menghadap Allah. Papa tampak ikhlash, begitu juga Aria. Lalu Aria menyerahkan Umar, keponakanku yang belum genap satu tahun usianya, kepadaku.

"Tolong, Mbak..Biar saya yang menjaga dik Hani."

Umar tetap tertidur pulas, walaupun posisi gendongan berpindah, dia tidak terbangun sedikit pun. Bocah kecil sebelas bulan ini tak menyadari, bahwa sebentar lagi, ibunya akan segera meninggalkannya. Dokter Ruslan bergegas masuk untuk melakukan tugasnya sebagai dokter.

"Biarlah, dokter..Insya Allah Kami sudah ikhlash..". Suara tegar Papa berkata.

Dokter Ruslan mengangguk seraya berkata, "Mudah-mudahan anak bapak diberi kemudahan oleh Allah..."

Perlahan-lahan, Aria membantu Hani membacakan syahadah di telinga Hani. Kemudian mulut Hani bergerak-gerak dengan mudah. Dan genggaman tangannya tampak mulai melemah. Ada butiran air mata yang bergulir dari matanya yang terpejam.

"Sakitkah adikku, sayang?", batinku dengan penglihatan kabur karena terhalang airmata. Aku menatap wajah Hani yang sedang bertarung melepas nyawa. Nafas Hani satu-satu, jaraknya makin lama makin panjang. Papa dan Mama membaca syahadah berkali-kali. Dan akhirnya nafas Hani pun terhenti...

"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun..."

*****

Hanifah, adikku, Hani begitulah dia dipanggil. Umurnya berbeda 4 tahun dariku. Tapi Hani, perawakannya yang tinggi, lagaknya yang tomboy serta rambutnya yang berpotongan pendek, membuat orang-orang sering salah terka. Mereka mengira Hani, cowok, jika melihatnya sepintas dari belakang. Aku teringat, teman-teman cowok sekampus meledekku ketika aku mengajak Hani hadir ke Baksos Mesjid kampus. Mereka, yang relatif tahu aku adalah " Si jilbab galak", meledekku, "Wah kemajuan nih, Adelina... Ternyata berani juga mengajak cowoknya ke kampus.."

Mendengar itu aku geli, tapi tidak demikian dengan Hani. "Siapa yang berani ganggu Mbak Adelina?". Tanya Hani berbalik sewot menghadapi teman-teman cowokku yang iseng tadi. Seketika mereka terpana, menyaksikan bahwa "cowok" Adelina adalah cewek manis yang tak kalah galak dari kakaknya. Itulah Hanifah. Siapa pun 5 tahun lalu, tak akan mengira dia akan memakai jilbab. Hani menikah di usia muda, bahkan mempunyai anak.

Kami 3 bersaudara, Mas Ardi, aku, dan si bontot Hanifah. Karena pendidikan orang tuaku yang demokratis dan bijaksana, kami bersaudara sangat rukun dan saling sayang satu sama lain. Dan lebih dari itu, kami saling mempengaruhi satu sama lain. Ketika Mas Ardi harus kuliah di Bandung, aku dan Hani menangis, karena kehilangan "bodyguard" yang selalu mengantar kami kemana-mana. Hani memaksaku, agar tak ikut-ikutan pilih universitas yang harus meninggalkan rumah seperti Mas Ardi.

Setiap pulang, Mas Ardi selalu membawa banyak perubahan. Tahun pertama ketika aku SMA, Mas Ardi masih suka merokok di sela-sela menggambar tugas arsiteknya. Namun setelah itu, Mas Ardi lambat laun menghilangkan kebiasaan merokoknya. Setiap pulang semesteran Mas Ardi banyak membawa majalah-majalah dan buku-buku Islam. Mas Ardi mulai mengajak kami, adik-adiknya, shalat berjamaah dan membaca Al Quran bersama di rumah. Alhamdulillah, pada saat itu aku berhasil masuk FE UI, sehingga tak perlu meninggalkan rumah seperti Mas Ardi. Setelah menjadi mahasiswi juga mungkin imbas yang kuat dari Mas Ardi, aku mulai mengenal Islam. Aku mulai mencari-cari untuk apa sebenarnya aku hidup. Dan, Alhamdulillah, aku menemukannya dalam aktivitas keislaman yang aku ikuti di kampus.

Namun yang aku heran, imbas tersebut tak mengenai Hani sama sekali. Hani tetap saja tomboy, dan malas jika aku ajak pergi ke pengajian. Walaupun demikian, Hani adalah adik kebanggaanku. Di antara lagaknya yang tomboy dan sikapnya yang manja di rumah, Hani adalah juara kelas di sekolahnya, dan kapten di grup basketnya. Sifatnya yang tak ingin kalah dari orang lain, dan serius ketika menekuni sesuatu, membuat dia bisa menjadi sukses dalam bidang yang disenanginya, seperti pelajaran atau basket.

Aku masih ingat, ketika untuk pertama kalinya dia harus mendapat rangking ketiga di kelasnya. Hani menangis di kamar seharian. Tapi, yang ini juga sifat Hani yang membanggakan, Hani cepat bangkit dari keterpurukan. Dengan menyetel kaset grup Queen idolanya, yang berisikan lagu we are the champion, Hani membangunkan semangatnya sendiri, dan dia bisa ceria lagi keesokan harinya.

Hingga pada suatu hari, Hani menemukan hidayah itu... Di balik kegagahan dan ketomboyannya, aku tahu ada sebongkah hati yang tulus dan lembut. Dan itu terbukti ketika aku mengikutsertakan Hani ke kegiatan baksos di kampus untuk ketiga kalinya. Kala itu dia kelas 3 SMA. Hani masih tetap dengan rambut cepak, kaus t-shirt putih, dan celana jeans hitam kebangsaannya. Di baksos itu kami memang mengumpulkan baju-baju bekas untuk kaum tak punya. Hani memang punya banyak baju yang sudah tak dipakainya. Tapi sayang, baju-bajunya selalu dikelompokkan untuk bocah laki-laki. Beberapa jilbab dan baju muslimah ku sisihkan khusus.

"Untuk siapa, Mbak..?" . Tanya Hani

"Ini untuk Mbok Siyem, yang jualan rokok di depan mesjid. Katanya anaknya yang SMP juga pakai jilbab.". Terangku.

"Oooo.."Hani membundarkan mulutnya.

Baksos belum mulai ketika aku dan Hani tiba di depan mesjid kampus. Karena masih ada waktu aku bergegas menemui Mbok Siyem yang selalu mangkal di dekat masjid. Tapi aku terkejut ketika aku tak menemui Mbok Siyem seperti biasa. Hanya Ijah, anaknya, yang menunggui warung.

"Lo, Mbok Siyem kemana..?"Tanyaku pada Ijah.

Ijah, bocah kecil kelas dua SMP itu, menjawab,"Mbok sedang sakit. Dari kemarin muntah-muntah." Ijah tak tampak sedih, malah tampak biasa saja.

"Ini Mbak bawakan baju buat Ijah, kemarin-kemarin si Mbok wanti-wanti meminta untuk membawakannya untukmu." Wajah Ijah yang tadi tampak biasa-biasa saja, kini tampak haru. Ijah menangis.

"Mbok bilang, kalau Ijah sabar dan ikhlash dengan dua baju, pasti Allah akan memberikan lebih. Dan ternyata benar..." Katanya terisak, mengusap ingus yang keluar dengan jilbab coklatnya, yang ku ingat adalah pemberianku setahun lalu.

Setelah baksos selesai, kami menjenguk Mbok Siyem, yang bukan kepalang terkejut dengan kedatangan kami. Waktu itu Mbok Siyem kelihatan sehat, tak seperti orang sakit. Walau beberapa hari setelah itu Mbok Siyem meninggal dunia. Peristiwa itu rupanya terpatri dalam di kalbu Hani. Sejak hari itu, Hani segera memakai kerudung. Tak ada yang menyuruh,tak ada yang meminta. Sehingga Mama melongo, melihat bontotnya menjadi feminin seketika.

Lalu siapa yang sangka Hani menjadi akhwat seperti sekarang? Dulu dia memang senang basket, sampai poster Michael Jordan memenuhi tembok kamarnya. Dulu dia memang senang Queen, sampai tak ada lagu-lagunya yang tak dihapalnya. Tapi beberapa bulan setelah mengaji, Hani melepas semua poster-poster tersebut, dan mendepak kaset-kaset lagu hingar bingar itu. Walau aku tahu, Hani menangis semalaman untuk berpisah dengan segala hobi dan kesenangannya. Tapi itulah Hani, esok selalu disambutnya dengan penuh semangat menantang dan keoptimisan.

Dan perkembangannya yang luar biasa setelah aktif mengaji, sering membuat aku dan Mas Ardi terharu. Sampai puncaknya pernikahan Hani 4 tahun lalu... Papa marah, Mama kesal, karena Hani dianggap mendahului aku dan Mas Ardi. Apalagi Hani masih 19 tahun dan masih tingkat dua...! Namun Alhamdulillah berkat diplomasiku dan Mas Ardi, bahwa kami rela didahului, akhirnya Hani melangsungkan pernikahannya.

Hani, kehidupannya menggapai hidayah seperti berlari. Bahkan ketika Allah menentukan dia harus menderita leukimia di usia 21 tahun. Kegalauan keluarga kami untuk memberitahukan Hani atau tidak, bahwa sakit-sakit tulang yang sering Hani keluhkan bukanlah sakit biasa. Kesedihan kami yang luar biasa, karena mengetahui Hani tak akan lama bersama kami lagi, mengingat dokter sendiri berkata belum ada penyembuhan yang jitu untuk penyakit kanker yang satu ini.

Sehingga akhirnya keluarga kami bertekad untuk mengungkapkan secara jujur penyakit Hani. Ini pun karena ada sebab yang luar biasa. Hani ternyata hamil 4 bulan waktu itu. Aria datang memberitakan kabar gembira yang timingnya buruk itu kepada keluarga kami. Kami tak tahu, apakah harus menyambut kabar ini dengan senang atau bersedih. Karena melahirkan anak adalah hal yang tak mungkin bagi Hani, karena akan memperlemah kondisi Hani. Namun, saat itu tak ada yang bisa menyetop Hani. Bahkan ketika kami memberitahukan bahwa hamil dan melahirkan kemungkinan besar akan mempertaruhkan nyawanya. Hani bersikeras untuk hamil dan melahirkan.

"Mama juga waktu hamil kami bertiga tak pernah memikirkan keselamatan nyawa Mama sendiri bukan..? Ayolah, Ma.. Jangan larang Hani, tapi bantu Hani dengan doa, agar Hani diberi kekuatan dan kesehatan oleh Allah. Dan jika harus meninggal pun, Hani meninggal dalam keadaan syuhada bukan..? Tapi Ma, Pa, Hani ingin hidup, paling tidak sampai anak ini lahir.."

Dan Allah memang Maha Besar dan Maha Pengasih. Semangat dan keoptimisan Hani memberi bekas yang dalam kepada orang di sekelilingnya. Sejak kehamilan Hani, Mama dan Papa menjadi lebih banyak beribadah. Mama memakai jilbab, banyak membaca Al Quran. Begitu pula Papa, setiap Senin dan Kamis tak ada yang terlewat dengan shaum, juga tahajud. Bahkan aku pun menikah ketika Hani sedang rawat intensif di rumah sakit. Hani selalu berkata, ingin melihatku menjadi mempelai sebelum dia menutup mata.

Dan Allah menjawab semua doa-doa dan harapan kami. Hani dapat melahirkan Umar dengan selamat, layaknya orang normal. Walau untuk itu Hani menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah sakit, dan kami selalu dibuat cemas akan keselamatan Hani sendiri. Ya, dua tahun Hani berperang melawan leukimia. Tapi tak pernah terungkap dalam ucapannya, bahwa dia menyesali nasibnya karena harus menderita penyakit ini. Bahkan dia kerap berujar,

"Allah sayang kepada Hani, ya, Mbak...Sehingga Allah memberi batas waktu yang jelas untuk Hani beraktifitas di dunia ini. Agar tak sia-sia..."

Ah, Hani sayang....

*****

Pekuburan sudah sepi, gundukan tanah merah di depanku mulai dibasahi oleh gerimis kecil yang turun satu-persatu. Kulihat isyarat lambaian tangan Mas Ardi yang berada di rombongan Mama, Papa, serta keluarga Aria mengajakku untuk pulang. Bang Irsyad, suamiku memberikan tangannya.

"Insya Allah Hani syahidah, De...Karena Hani begitu pasrah dan tawakal kepada Allah dengan penyakitnya. "Hiburnya. Aku mengangguk. Di tanganku ada setumpuk amplop yang ditujukan pada Umar. Surat dari Ibunya. Aku teringat percakapan kami 5 bulanan lalu.

"Ini sebagai hadiah buat Umar setiap umurnya bertambah satu tahun, Mbak... Aku persiapkan 15 surat, untuk Umar. Agar Umar selalu mendapat nasehat dariku walaupun aku sudah tak bisa menyaksikan Umar tumbuh sampai dia baligh dan mengerti. Aku titipkan pada Mbak Ade, ya..?". Hani menyerahkan tumpukan amplop itu padaku.

"Kenapa tak kau titipkan pada Aria, bukankah dia yang lebih berhak...?" Hani tersenyum.

"Mas Aria harus mencari pengganti Hani untuk mendidik Umar, bukan..? Tentu tidak bijak kalau Mas Aria mengingat Hani terus, dan melupakan hal yang satu itu". Katanya diluar dugaan. Lalu, "Mbak..., aku ingin Umar mempunyai sifat gabungan dari kita bertiga. Perhatian seperti Mas Ardi, tegas dan lembut seperti Mbak Ade, enerjik dan jenaka seperti ibunya..."

"Laa..Aria bagaimana, dong..?"tanyaku menahan geli...

"Iya ditambah ganteng dan shaleh seperti bapaknya..." tawanya jenaka.

Mataku kembali basah. Di detik-detik terakhir kehidupannya, Hani tak pernah menampakkan keputusasaan. Dia tetap optimis, bahwa Allah memberikannya penyakit sebagai ujian, maka dia harus lulus, dan bertawakal untuk jadi pemenangnya. Ya...Juara itu telah pergi, Syuhadah itu telah pergi, pergi tanpa beban dan tanpa keputus asaan. Pergi meninggalkan sebongkah kesan dan bekas cinta yang mendalam.

Selamat jalan the champion...

]]>